Legend of Legends: Chapter XI – The Old Group

Leave a comment

ENJOOOOOOOOOOOOOOOOY ^_^

————————————————————————————————————————————————

CHAPTER 11

THE OLD GROUP

                Kapal-kapal telah diberangkatkan tanpa ritual khusus. Marino berdiri di tempat pengintaian, yaitu di atas layar. Ullyta juga ada diatas. Keduanya sedang bercerita tentang masa lalu masing-masing. Tak lama kemudian, daratan Crin’s Blade menghilang dari pandangan. Yang tampak hanyalah biru, biru, dan biru. Dari atas, Marino melihat seekor ular raksasa berenang di samping kapal. Tadinya ia terkejut dan mau memberi peringatan darurat, tapi ia baru ingat bahwa itu adalah Morded, ular teman Adin. Ia melihat Adin berjalan mendekati tepi kapal. Kelihatannya mau muntah, tapi ternyata ia mau berbicara dengan Morded. Morded mengangkat lehernya setinggi geladak kapal. Adin sama sekali tidak menggerakkan mulutnya, tapi kemudian Morded masuk lagi.

“Ooooeeeiii, Adin! Kau tanya apa?” tanya Marino dari atas.

“Aku tanya apakah ia bisa meminta monster laut lainnya untuk ikut mengawal kapal-kapal kita,” sahut Adin dari bawah. Dan di samping kapal, muncul beberapa monster raksasa yang bentuknya unik. Ada yang seperti ikan hiu tapi amat besar dan bersisik, ada yang seperti naga yang bisa berenang, dan ada pula yang seperti buaya. Tiba-tiba Ullyta melompat ke bawah. Marino mengikutinya.

“Kau bisa berbicara dengan hewan?” tanya Ullyta pada Adin.

“Kelihatannya,” jawabnya.

“Coba kau pakai bahasa binatang padaku,” pinta Ullyta, dan keduanya saling bertatapan sejenak. Beberapa prajurit mendekat karena penasaran.

“Hei, aku bisa bicara denganmu juga!” kata Adin setelah beberapa saat.

“Berarti kau bukannya bisa bicara dengan hewan,” kata Ullyta. Semua agak terkejut. “Kau bisa berbicara melalui pikiran pada mahluk hidup lain. Bagimu itu bahasamu, dan bagi mahluk yang kau ajak bicara, itu bahasanya.”

“Tetapi tidak semua mahluk hidup bisa melakukan telepati semacam itu, untuk menjawabku.,” protes Adin.

“Nah. Keahlianmu itu bukan sekedar telepati satu arah. Saat kau mengirimkan pikiran ke mahluk yang kau tuju, kau kelihatannya juga membuka sebuah jalur, sehingga saat kau mengirimkan pikiran, dia bisa mengirim kembali pikiran itu jika menghendaki,” kata Ullyta.

“Tapi aku pernah dipanggil duluan oleh hewan. Apa kau mau bilang hewan itu juga bisa ‘membuka jalur pikiran’?” tanya Adin lagi.

“Bukan. Tunggu… biar aku berpikir dulu….”

Suasana hening sejenak. Tiba-tiba Ullyta menatap Adin sebentar.

“Ya. Namanya Amber,” kata Adin.

“Berarti jika ada yang mengajakmu berbicara lewat pikiran, kau bia mendengarnya. Kalau hewan, mereka tidak pakai bahasa. Mereka menggunakan isyarat naluriah mereka, sambil memikirkannya dalam hati. Wajar saja kalau kau bisa dengar. Terpecahkan juga misterimu,” kata Ullyta.

Marino kembali ke tempat pengintaian dan menunggu. “Oi, kapten! Kapan kita tiba?” teriaknya pada kapten kapal.

“Besok malam!” balas sang kapten. Wah, kalau begitu masih lama. Waktu itu kapal dari Crin’s Blade menjemputnya dari Gallowmere di saat yang tepat. Apakah kebetulan, atau memang kapal asli Crin’s Blade yang bisa secepat kilat? Tapi tidak. Cuma kebetulan. Pada pertempuran kemarin, waktu kapal-kapal Crin’s Blade sadar bahwa kapal-kapal Devilmare telah lolos, mereka gagal mengejar tepat waktu.

Malam tiba dan ransum malam dibagikan. Saat seperti itu, ada isyarat dari salah satu skuadron kapal yang melakukan konvoi berupa kilatan api hijau yang melambung tinggi. Ada serangan, tapi mereka tak perlu terlalu khawatir, sebab ada dua skuadron yang mengawal mereka. Apalagi ada beberapa monster raksasa yang ikut mengawal. Kilatan-kilatan cahaya memercik ke udara dan dari tempat pengintaian, Marino akhirnya melihat siapa yang mereka hadapi. Ada satu konvoi besar kapal Devilmare. Tapi kapal perangnya hanya sembilan yang terdepan saja. Sisanya merupakan kapal transport. Rupanya Devilmare mau mengadakan serangan kejutan lagi, tapi kali ini lebih kecil. Jauh lebih kecil. Mungkin ada sekitar dua puluh kapal transport. Kebetulan sekali bisa berpapasan dengan mereka.

Empat kapal perang telah berhasil dilumpuhkan oleh armada Doughlas, tapi skuadron pertama kelihatannya kehabisan peluru magic api yang biasa mereka pakai, dan musuh belum masuk jarak tembak skuadron dua. Jarak tembak kapal itu sekitar seratus meter. Dari kapal-kapal skuadron satu, meluncur sekoci-sekoci berisi marinir yang telah bersiap dengan senjata masing-masing. Para monster yang dipimpin oleh Morded mulai meluncur ke arah konvoi kapal transport musuh.

Rupanya saat mau menyerang, monster air bisa meluncur dengan sangat cepat di air. Tampak Amber melayang menuju konvoi musuh sambil mencurahkan hujan api. Skuadron dua akhirnya telah cukup dekat dan menghujani kapal musuh yang tidak dipenuhi marinir Crin’s Blade, ditandai dengan kapal yang telah mulai terbakar dan sekoci di sekitarnya, dan juga tidak menyerang kapal yang sedang dihancurkan oleh monster.

Skuadron dua juga kehabisan peluru magic api dan mulai meluncurkan sekoci. Tapi rasanya tidak perlu. Satu persatu kapal musuh tenggelam, paling banyak oleh para monster dan Amber, yang dengan mudah bisa membuat lubang yang sangat besar di dasar kapal. Api pada tubuh Amber tidak padam walau menyelam ke air. Sudah hampir matahari terbit dan kapal terakhir dari konvoi Devilmare akhirnya tenggelam. Mereka berhasil menawan sekitar seribu lima ratus prajurit Devilmare dan menahan mereka di kapal-kapal skuadron tempur. Marino bertanya mengenai peluru magic api dan bagaimana mengisinya lagi. Menurut seorang awak kapal, ada seorang mage yang bisa mengisinya dengan melakukan magic api yang kuat ke laras-laras meriam. Tapi prosesnya lama, dan meriamnya lumayan banyak. Jadinya sangat lama, tapi ampuh.

Sarapan berupa sepotong roti dan ayam dibagikan. Semuanya makan tanpa gangguan. Marino menulis surat untuk Doughlas di kapal Juggernaught yang paling depan. Ia memerintahkan agar satu kapal atau sekoci pulang, untuk memperingatkan The Chain, karena kapan saja bisa ada serangan dari Devilmare, agar mereka melakukan siaga tempur dan patroli ekstra. Ia menambatkan suratnya di kaki Amber, lalu seolah mengerti maksudnya, ia langsung melayang pergi menuju Juggernaught yang ada Doughlas-nya. Sekitar setengah jam kemudian, tampak tiga buah sekoci meluncur ke arah sebaliknya, menandakan bahwa Doughlas telah menerima surat tersebut.

Perjalanan terasa sangat lama, hingga malam tiba dan daratan mulai tampak. Hutan belantara tampak di daratan tersebut. Makin lama mereka makin dekat… makin dekat, dan terdengar sebuah siulan yang sangat nyaring, namun dari kejauhan. Mendengar siulan itu, kapal-kapal yang mendengarnya juga mengeluarkan siulan. Sekoci-sekoci mulai meluncur.

“Apa maksudnya? Tanya Marino pada Jasmine sambil membantunya memyiapkan sekoci. “Artinya, waktunya kita naik sekoci. Kapal tidak bisa lebih dekat lagi. Ayo,” puluhan sekoci meluncur di kiri dan kanannya membuat semuanya kelihatan sangat seru bagi Marino. Apalagi sekarang sudah malam.

Setibanya di pesisir, semua pasukan memisahkan diri dan bergabung ke pasukannya sendiri, menunggu perintah. Adin sedang mengatakan sesuatu pada Morded sang ular raksasa. Ternyata dia menyuruhnya untuk ikut pasukan Gerilya. Jasmine mendengus agak kurang suka.

“Dia agak takut ular,” bisik Eko.

“Payah. Dia kan gerilya,” bisik Daffy pada Eko. Setelah menerima tanda dari Marino, seluruh pasukan bergerak ke hutan dan mendirikan kemah.

“Besok pagi, kau akan ke sana, Herz,” perintah Marino.

Keesokan paginya, Herz, dan Jasmine bergerak menuju puri itu. Entah apa yang akan mereka lakukan agar tidak dicurigai. Sementara itu, Marino menegaskan kembali strateginya kepada yang lain. Beberapa saat kemudian, Jasmine kembali.

“Mana Herz?” tanya Marino.

“Dia memintaku kembali untuk memberitahukan padamu. Seorang petinggi Devilmare sedang berkunjung ke sana, jadi sebaiknya kita menunggunya pulang sebelum nanti bergerak,” jawabnya.

Saat itu semua sedang bersiap-siap. Kelihatannya bagi para prajurit misi ini terlalu mudah. Entah mereka cuma omong kosong atau memang hebat. Matahari sedang terik-teriknya waktu Herz kembali dari sana. Ia membawa bungkusan besar.

“Si Pejabat sudah pulang dari tadi, tapi aku kebanyakan ngobrol dengan Jernandez. Maaf. Tapi ia memberikan ini,” kata Herz senang, dan menunjukkan isi bingkisan yang diperolehnya, yang ternyata dua buah gelas perak.

“Katanya ini untuk suami dan anakku. Baik sekali. Kumohon, tawan saja dia,” dan Marino malah agak sinis.

“Informasinya?” tanyanya.

“Oh, ya. Katanya, jika mau mengeluarkan orang dari tabung dengan benar, harus Rafdarov V sendiri yang menempelkan telapak tangannya di salah satu tabung, dan tabung itu akan terbuka. Tapi jika orang lain, harus dibelah. Sekali tebas tabung itu harus hancur. Jika tidak, orang di dalamnya akan tewas. Untuk menyadarkannya, baringkan lalu tunggu saja. Katanya orang di dalam tabung akan sadar sekitar lima menit setelah mendapat udara bebas lagi,” kata Herz.

“Oke, semua bergerak sekarang juga,” kata Marino. Pasukan The White Garda bersiap di atas kuda masing-masing, demikian juga Marino, Ullyta, Saphirre, Adin, Eko, Daffy, dan Herz. Pasukan gerilya juga mulai bergerak. Jasmine agak bergidik begitu menyadari Modred yang bergerak tepat di sebelahnya. “Maju perlahan,” perintah Marino, lalu seluruh kavileri bergerak perlahan, hingga akhirnya mereka sudah dekat dengan tepi hutan yang lain.

Bukan tepi hutan, sebetulnya, tapi bagian hutan yang membuka sedikit, tempat dibangunnya puri itu. Cukup banyak prajurit yang menjaganya. Tapi mereka menumpuk di bagian depan puri. Ada sekitar lima ratus. Bagus, ini tidak seimbang dan menguntungkan kita, pikir Marino. Marino mengirim seorang pasukannya untuk memeriksa semua sektor pasukan gerilya, dan kembali lima belas menit kemudian. “Semua siap,” katanya. “Baiklah. Semuanya maju!”seru Marino dan pasukan kavileri the White Garda menerjang maju, untuk membuktikan kekuatan pasukan penjaga khusus kerajaan.

Para prajurit Devilmare yang sama sekali tidak pernah bermimpi akan mendapat serangan sedikitpun, di siang bolong, apalagi oleh sepasukan besar kavileri yang tangguh, apalagi pula di tengah-tengah daerah kekuasaan Devilmare. Sebagian dengan sigap menyambut serangan, sebagian kabur tepat ke arah di mana para gerilyawan menunggu, dan mereka dihujani dengan panah dan tombak oleh para gerilyawan. Sebagian kabur ke dalam. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka telah menguasai area puri. Tim Marino dan tiga puluh prajurit the White Garda turun dari kuda masing-masing, dan melesat masuk ke puri. Di dalam, langsung terjadi pertarungan singkat, yang menyebabkan banyak musuh tewas, dan banyak yang di sandera.

Jernandez tidak mau menyerah. Saat seorang prajurit mau menebasnya, Herz menyambar Jernandez agar tidak terkena. Akibatnya, lengannya terluka. Karena didorong Herz, Jernandez jatuh dan sebuah mahkota kecil terlepas dari kepalanya.

“Aku… aku dipaksa. Jangan sakiti aku.. aku akan ikut kalian. Aku.. pikiranku dikuasai…,” pinta Jernandez. “Kalau begitu tunjukkan di mana Daisy Asalaz disimpan,” perintah Marino padanya.  “Aku tidak tahu. Ada ribuan orang di sana, dan aku tidak ada daftarnya. Percayalah,” kata Jernandez.

“Kalau begitu, ikut kami ke bawah,” kata Marino, dan ia setuju. Ia mengambil sebilah tombak, dan Adin menodongnya dengan kapak algojonya.

“Ada beberapa monster yang menjaga di bawah. Percayalah padaku. Aku sejak semula tidak pernah mau ikut Devilmare,” bujuk Jernandez.

“Herz, kau ingat arahnya?” tanya Marissa.

“Errr… tidak. Jalannya sering bercabang-cabang, dan aku sulit untuk mengingat jalan. Kalau waktu itu tidak ada yang menjemputku di dalam, aku tidak bisa keluar lagi.”

Mereka ada sembilan orang, yaitu Marino, Eko, Adin, Daffy, Herz, Saphirre, Ullyta, Marissa, dan Jernandez. Setelah memerika papan di sepan lorong menuju bawah tanah (tepatnya ada ‘0’ manusia) dan segera bergegas ke bawah. Baru saja mereka menemukan sebuah ruangan yang agak terbuka, seekor monster kepiting muncul dan menusuk perut Jernandez.

“Aku lupa. Harusnya kita tadi menekan tombol tersembunyi,” katanya lemah. Eko menghantam monster itu dengan sebuah magic petir yang kuat, sehingga sang monster terbanting keras dan tubuhnya terlilit pancaran listrik yang terus mengecil. Tak lama akhirnya monster itu terbelah oleh pancaran itu.

“Saphirre, tolong bawa Jernandez naik dan obati dia,” kata Marino.

“Tentu saja..,” kata Saphirre dan pergi memapah Jernandez.

Ruangan itu bercabang dua. “Herz, ke kiri atau kanan?” tanya Marino, dan Herz menggeleng. Dia sudah lupa.

“Oke. Ada yang tidak bisa menghancurkan dengan sekali tebas?” tanya Marino dan Herz mengangkat tangan.

“Nah. Kita bagi dua regu. Aku, Daffy, dan Marissa, kita ke kiri. Adin, Eko, dan Ullyta, ke kanan. Herz, kau harus selalu bersama yang ke kanan, dan terus bersama paling tidak salah satunya. Ini, kubagikan alat siul, tiup keras jika dari kalian ada yang menemukannya, lalu bawa dia kemari. Jangan lupa. Daisy Asalaz. Bergerak,” lalu mereka pergi ke arah masing-masing.

Mereka tidak bisa bergerak cepat karena harus mengamati nama satu persatu orang di dalam tabung, dan ada ribuan di sini. Dengan sabar dan berusaha cepat, mereka terus mencari. Grup Marino mencari terus hingga akhirnya bertemu jalan yang bercabang dua.

“Daffy, kau ikut Marissa ke kanan, dan aku ke kiri,” perintah Marino. Tanpa menunggu disuruh dua kali, mereka bergerak. Marino menemukan sebuah pintu. Begitu ia membuka pintu itu, ia bertemu seekor iblis yang pernah ia lihat di pertempuran beberapa hari silam. Hanya saja, yang ini agak lebih kecil, dan punya sayap. Kedua tangannya memegang pedang yang ukurannya mengerikan.

Marino menerjang monster tersebut, tapi monster itu juga pintar. Mereka bertarung sejenak, hingga akhirnya Marino berhasil memenggal kepalanya. Tubuhnya berhenti bergerak, dan jatuh sendiri. Ada dua buah pintu lagi. Dipilihnya pintu sebelah kiri untuk ditelusurinya lebih dahulu. Ia terus menyusuri ruangan tabung berikutnya sambil melihat wajah wajah di dalam tabung-tabung, tapi tak ada Daisy Asalaz. Terus menerus mencari dan ternyata ia menemukan dirinya kembali ada di ruangan dimana ia bertemu iblis.

Tadinya ia mau menyusul rombongan Marissa, tapi menurutnya itu akan merepotkan dan membuatnya bisa tersasar dan malah membuat semuanya lebih ruwet. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruangan dimana pertama ia bertemu monster dan Jernandez terluka. Di sana sudah ada monster lagi, yang berupa musang raksasa, namun mudah dikalahkan. Setelah berhasil, ia duduk di atas bangkai monster itu. Ia menanti. Pasti ada yang akhirnya akan menemukannya.

Tapi… bagaimana jika ternyata waktu itu Herz salah lihat? Maka semuanya… semua misi ini… sia-sia… tapi setidaknya ia mendapati sebuah konvoi tempur Devilmare menuju Dark Land yang sama sekali tidak diperkirakan. Ah, tidak mungkin salah, pikir Marino. Herz mengetahui namanya secara detail, dan juga rupanya. Jangan berprasangka buruk. Dan ia terus menanti… menanti…

Sementara itu, rombongan Eko, Adin, Ullyta, dan Herz juga menemui jalan bercabang dua. “Aku dan Adin ke kiri, kalian berdua ke kanan. Ayo,” kata Eko, dan mereka bergerak menuju arahnya masing-masing.

Herz dan Ullyta, dua wanita yang usianya selisih hampir dua puluh tahun ini, terus mengobrol sambil mencari. Akibatnya, pencarian mereka berlangsung lambat. Ullyta bercerita mengenai pacarnya yang bernama Aerio Brynn. Juga mengenai silsilah Aerio. Herz merupakan seorang pendengar yang baik, sehingga ia hanya mendengarkan saja kisah dari Ullyta sambil terus mencari.. dan mencari…. hingga akhirnya Ullyta menceritakan saat ia berkenalan dengan keluarga Aerio. Di sana, ia berkenalan dengan ibunya, yaitu Amarent Brynn, ayahnya, Collin Brynn, dan tunangan pamannya, yaitu Lucy Gells. Paman Aerio sendiri tidak ada. Mendengar nama tunangan paman Aerio, Herz terhenti.

“Lucy menikah dengan Crestino Brynn dua bulan yang lalu…,” kata Herz.

“Ha!” Ullyta terkejut, “Kau tahu dari mana?” tanyanya.

“Marcus Gells, kakak dari Lucy Gells… adalah suamiku. Jika kau menikah dengan Aerio, kita akan jadi keluarga, Nak,” kata Herz. Sejak itu, mereka bertambah seru mengobrol dan pencarian bertambah lama.

Bertolak belakang dengan kelompok Adin dan Eko. Keduanya tak berkata apa-apa. Eko mengamati tabung-tabung di sebelah kirinya dan Adin mengamati sebelah kanan. Keduanya berjalan dengan cepat sekali. Mereka tidak mengamati label nama orang yang di dalam tabung, melainkan orang di dalam tabung itu sendiri.

Mereka menemukan pintu yang besar. Di balik pintu itu, ada seekor monster besar. Mereka menyerang monster itu. Monster itu mudah sekali dikalahkan, tapi mereka baru sadar. Monster itu akan meledak. Eko masih sempat melompat ke pintu berikutnya. Adin melompat pula, ia terlalu jauh. Tapi ia masih sempat menutup pintu di mana Eko menunggu. Eko terjatuh ke belakang karena pintu ditutup keras, tapi ia segera bangkit lagi untuk membukakan pintu untuk Adin, tapi dari balik pintu terdengar ledakan keras.

Menolak membuang waktu untuk memeriksa apakah Adin selamat, yang jelas mustahil, ia mencari ke ruangan berikutnya. Dengan semangat baru, ia dengan cepat meneliti kiri dan kanannya. Selang beberapa ruangan, impiannya tercapai. Kini di depannya ada sebuah tabung yang isinya seorang wanita yang berwajah manis, berambut cokelat lurus sepanjang bahu, dan melayang ganjil di dalam tabung berisi cairan aneh itu. Matanya terpejam. Di bawah tabung itu, tertera nama Daisy Asalaz.

Eko mengarahkan tongkatnya ke arah tabung itu, dan terhenti sejenak. Bagaimana cara menghancurkan tabung itu tanpa menghancurkan isinya? Dan Eko mendapat cara. Ia menyihir lima bola listrik kecil dan melayangkan mereka. Satu sejajar dan lurus mengarah ke sekitar satu jengkal di samping telinga kiri Daisy, satu lagi di sebelah telinga kanan, satu di sebelah kaki kanan, satu di samping kaki kiri, dan yang terakhir tepat di antara kedua paha Daisy. Yang ini harus ekstra hati-hati kalau tidak mau kena paha Daisy. Eko sadar bahwa kelima bola itu harus meluncur cepat, dan bersamaan. Ia berkonsentrasi, dan kelima bola listrik itu mulai mengeluarkan beberapa percikan api. Eko tidak boleh melakukan kesalahan. Tidak boleh. Ia menajamkan matanya… ia mengerahkan semua partikel otaknya untuk membantunya… dan…

WHHUUUUUUSSSSSSS… PRANG!!! Tabung itu pecah berantakan, dan tubuh Daisy terjatuh ke depan. Dengan sigap, Eko menangkapnya. Aneh. Setelah sekian lama terendam cairan, tubuhnya sama sekali kering. Eko mengangkatnya dan membaringkannya di lantai yang tidak ada pecahan kaca dan tumpahan airnya. Ia meniup keras alat yang diberikan oleh Marino tadi dan menunggu Daisy tersadar. Dibelainya wajah yang bertahun-tahun tidak ia lihat itu. Sama sekali tidak berubah sejak terakhir ia lihat beberapa tahun silam. Adin menghambur masuk.

“Kau menemukannya.”

“Apakah kau tak apa-apa?” Eko kaget, menyangkanya sudah tewas terkena ledakan. “Aku tidak akan mati semudah itu, sobat. Daisy… dia belum berubah. Semoga dia mau memaafkan kita.”

Daisy membuka matanya. “Kalian… kalian akhirnya datang juga…. aku lama sekali menanti kalian.. dan…. tolong… dingin sekali,” kemudian Eko baru sadar. Dirinya yang berbadan besar dan memakai jubah perang dilapis jubah kain saja masih dingin. Eko melepas jubah kainnya, dan menyelimuti Daisy, dan Adin melakukan hal yang sama.

“Bagaimana rasanya di dalam tabung itu?” tanya Eko.

“Tidak ada rasanya. Rasanya aku baru memejamkan mata lima menit yang lalu waktu mereka memasukkanku di sini. Tapi… kalian sudah berubah… kalian besar sekali… apa yang terjadi?” tanya Daisy, membuat Eko dan Adin saling berpandangan.

“Hampir enam bulan penuh aku berada di penjara sebelum aku masuk kemari. Marino dan Daffy mana? Eh, aku heran sekali. Ceritakan. Kenapa kalian tampak lebih tua dari terakhir aku ingat?” di hadapan Eko dan Adin sekarang ini secara fisik, yah, menurut perkiraan memang seorang Daisy Asalaz yang berusia tiga atau empat belas tahun.

“Eh, kau ingat kapan kau tertangkap oleh mereka?” tanya Adin, mulai curiga. “Yah, tentu saja. Sudah lama sekali. Mungkin kira-kira enam bulan lalu. Lebih dua atau tiga minggu, barangkali. Salahkah aku?” tanya Daisy, tapi mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres. Agak lama Adin dan Eko membisu, sebelum akhirnya Eko angkat bicara. “Daisy… itu… terjadi hampir tiga tahun yang lalu….”

Ketiganya berjalan menuju ruang dimana semua berjanji untuk bertemu. Daisy tampak lucu sekali dengan memakai jubah yang luar biasa terlalu besar untuknya. “Kalian betul-betul tumbuh, ya?” tanyanya dan merangkul kedua temannya itu, yang sekitar tiga puluh senti lebih tinggi darinya.

Saat Daffy melihatnya, ia langsung memeluk dan mencium pipinya. “Lama sekali…,” katanya sambil membelai kepalanya.

“Baginya baru beberapa bulan. Dia akan menjelaskannya nanti,” kata Adin. Marino juga langsung memeluknya. Daisy cuma setinggi bahunya sekarang.

“Kau bertambah mungil atau aku yang bertambah tinggi?” tanya Marino. “Kami tunggu di atas.” kata Marissa, lalu semua meninggalkan mereka berdua di sana. “Kau yang bertambah tinggi, dan aku tidak tumbuh sama sekali,” kata Daisy tersenyum.

“Maksudmu?” Marino keheranan.

“Aku serius. Sangat serius,” mereka pun berciuman.

Mereka telah membereskan tenda dan telah siap untuk kembali ke kapal. Agak lama baru Marino dan Daisy kembali. Setelah semua siap, mereka kembali ke pesisir dimana sekoci-sekoci mereka masih ada belum tersentuh. Modred kembali ke air untuk menyusul skuadron-skuadron laut milik Doughlas. Sekoci-sekoci kini sedang kembali ke kapalnya masing-masing.

“Jangan sampai salah kapal,” Daffy memperingatkan semuanya. Sesampainya di kapal, Marino membantu Daisy naik.

“Ceritakan kisahmu,” kata Daisy setelah mereka duduk di salah satu kabin kapal. Marino menceritakan bagaimana ia bekerja pada Devilmare, ia terpisah dari teman-temannya dalam sebuah pertempuran yang diikuti oleh sebuah ledakan besar. Ia kemudian berlanjut ke kisahnya yang bekerja pada El-Peso, lalu pindah ke Gallowmere dan bertemu Daffy. Setelah itu ia ceritakan pula kisahnya di Dark Land dan sampailah ke saat akhirnya ia menjadi Caliph lalu ia mendapat kabar mengenai keberadaan Daisy.

“Kebetulan sekali. Sangat-sangat kebetulan. Kalau saja orang yang bernama Herz itu tidak melihat aku di tabung, aku tidak akan bersamamu lagi,” katanya.

“Kalau kau?” tanya Marino.

“Yah, aku dimasukkan ke penjara lokal karena mengacaukan keamanan. Beberapa bulan setelah itu, Rafdarov V sendiri melakukan inspeksi. Ia melihatku dan berniat memasukkanku ke dalam Lucifer’s Den. Tapi ada yang mengusulkan agar aku masuk ke puri Jernandez saja. Dia setuju. Aku dibawa ke sana, lalu Jernandez menyihirku dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Yang aku tahu adalah tiba-tiba aku terbangun di lantai dan ada Eko di sebelahku. Dari ceritanya, aku telah tidak sadar selama hampir tiga tahun. Tapi, aku masih tiga belas. Kau lihat. Aku mungil sekali,” katanya agak kecewa.

“Tapi kau sangat cantik. Aku menyukaimu,” Marino mencium pipinya. “Oh, berhentilah menjilat,” ledek Daisy, dan keduanya tertawa dan berpelukan. Marino sadar, bahwa ramalan Gabriela benar. Ia sangat mencintai Daisy. Bahkan, rasanya ia terlalu mencintainya, dan ia baru merasakannya saat ia melihatnya untuk pertama kalinya waktu Eko dan Adin membawanya keluar. “Omong-omong, waktu aku di dalam tabung, ada saat-saat dimana aku sadar. Seperti mimpi. Dua kali. Pertama aku merasa seperti berada di waktu kita berlima tidur di hutan karena Daffy dihukum. Lalu, aku bermimpi lagi, seolah kita berlima berada di dekat Rafdarov. Itu saja,” kata Daisy.

“Aku tidak heran. Kita berlima memang bermimpi tentang hal yang sama,” jawab Marino.

“Aku tak bisa banyak membantu,” kata Kaine di ruang pertemuan Crin’s Blade setelah Marino dan yang lainnya tiba dua hari kemudian, “Hanya sedikit. Dia tiga tahun lebih muda dari sebelumnya. Aku cuma bisa menuakannya sedikit, satu setengah tahun itu maksimal, tapi cuma fisiknya saja. Kalau cara dan pola fikirnya, rasanya akan tetap seper….”

Daisy langsung memotong pedas, “Jadi kau mau bilang kalau aku anak-anak? Apa begitu?” Kaine tertawa.

“Dengan tingkahmu seperti itu aku makin berpendapat demikian,” katanya sambil membelai kepala Daisy dengan tangannya yang berjari kurus panjang, dan agak bersisik, tapi Daisy tidak tampak keberatan.

“Nah, kalau begitu, gantilah pakaianmu dengan yang agak lebih besar. Tubuhmu akan membesar sedikit, kalau memang kau bisa tumbuh lagi…,” Daisy melotot tajam padanya.

Ia pergi ke kamar Marissa dimana Marissa berjanji akan memberinya baju. Dia kembali tak lama kemudian dan Kaine telah memegang segelas cairan bening. “Minumlah ini. Takaran dan dosisnya sudah aku ukur supaya kau, secara fisik, satu setengah tahun lebih tua,” katanya.

“Tambahkan lagi, supaya aku bisa lebih besar lagi,” pinta Daisy.

“Tidak bisa. Jika aku tambahkan lebih dari satu tahun tujuh bulan, akan menjadi racun yang amat kuat. Makanya, aku buat satu tahun enam bulan supaya aman. Dan… kau cuma boleh minum ini sekali dalam seumur hidupmu kalau kau masih mau hidup. Langsung habiskan. Jangan berhenti meneguk kalau belum habis,” kata Kaine.

Dengan wajah cemberut, Daisy mengambil cangkir itu. Marino, Eko, Daffy, Adin, Marissa, dan beberapa orang lain datang untuk menyaksikan. Daisy langsung meminumnya sampai habis. “Rasanya hambar,” katanya.

Mereka menunggu beberapa saat, dan terjadilah. Tubuh Daisy agak membesar, kemudian tingginya pun agak bertambah. Kini ia setinggi telinga Marino, seperti dulu lagi.

“Umurku lima belas sekarang,” katanya senang. “Terima kasih banyak, Kaine. Nah, Paduka Marino, bisakah kau usahakan agar aku masuk ke militer?” tanyanya manja.

“Akan kuusahakan,” kata Marino, yang mencubit pipinya dengan gemas melihat tingkah dan gaya bicaranya itu. “Dan, ada tempat kosong di fraksi politik The Chain. Mungkin kau bisa mengisinya.”

Daisy diam sejenak, lalu memeluk Marino. “Aku tidak berharap banyak. Aku cuma sangat senang bisa kembali dengan kalian seperti dulu,” kata Daisy. Marino juga sangat senang. Marino membelai kepalanya, dan terjadilah suatu keajaiban. Daisy memegang kedua pergelangan tangan Marino.

“Senjata dariku ini kenapa?” tanyanya.

“Hancur, kena sihir Jester. Tapi aku selalu memakainya,” Daisy tersenyum, lalu mencium Marino tanpa melepas kedua pergelangan tangannya. Tiba-tiba saja senjata pada kedua tangan Marino memanjang lagi dan utuh seperti semula. Hanya saja warnanya menjadi emas. “Kau tahu, aku tidak membuatnya dari logam saja?” bisik Daisy, dan memeluk Marino lagi dengan sangat erat. Daffy, Eko, dan Adin masuk.

“Berlima, “kata Eko,” kita akan habisi Devilmare.”

Kini dia sangat percaya bahwa Rafdarov akan hancur. Dia tidak akan bisa bertahan melawan Marino, karena kelompoknya telah utuh kembali. Empat kuat, lima sempurna. Marino, Eko, Daffy, Adin, dan Daisy. Kelompok yang dulu.

[End of Chapter XI]

[Coming up next, Chapter XII: Past, Present, and Future]

Legend of Legends: Chapter X – Expedition

Leave a comment

After a long delay, here goes Chapter 10!

ENJOY! ^_^

——————————————————————————————————————————————————-

CHAPTER 10

EXPEDITION

                Melihat darah keluar, Meissa tak mampu menjerit. Ia jatuh lemas. Untunglah Marino dengan sigap menangkapnya.

Bathack tak mampu berkata apa apa, dan jatuh terpuruk dan terduduk di lantai. Wajahnya terbenam di kedua tangannya. Marino, antara ketakutan dan kesal pada Bathack berteriak pada Bathack.

“Dasar kau pecundang! Begitu saja sudah menyerah! Jaga dia!” ia membaringkan Meissa di lantai dengan perlahan, lalu berlari ke luar. Sempat terlihat olehnya setetes air mata Meissa mengalir.

“TABIB! TABIB!” teriak Marino. Kebetulan sekali sang tabib istana, yaitu seorang ahli pengobatan dan white mage, ahli sihir-sihir penyembuh, baru saja mau memberi laporan tentang korban luka perang tadi yang tiba di kastil, dan sekarang berdiri tepat di depan pintu ruang pertemuan. Tanpa bertanya apapun, dia masuk, mengetahui ini pasti darurat. Sang tabib berlutut di sebelah Meissa yang terbaring lemas, meletakkan tangannya sejengkal di atas area yang berdarah, dan tangan sebelahnya di dekat telinganya sendiri. Tangannya yang berada di atas area yang berdarah mengeluarkan sedikit sinar putih.

“Harapannya sangat kecil… kandungannya sekarat. Masih hidup, tapi dia semakin lemah. Aku cuma bisa memperlambat kematiannya. Aku butuh orang lain untuk menyembuhkan lukanya,” kata sang tabib.

“Seseorang panggilkan Kaine!” teriak Marino, sambil terus berharap. Setelah agak lama, habis juga kesabaran Marino.

Si tabib berkata, “Terlalu lama. Rasanya ia tidak akan berhasil.”

Marino melompat keluar dan pergi mencari Kaine. Di lorong depan ruang pertemuan, Kaine sudah ada, dan sudah berlari… bukan… melayang dengan cepat menuju pintu.

Begitu memasuki ruangan, Kaine mengangkat kedua belah tangannya yang kemudian mengeluarkan sinar keperakan ke arah Meissa. “Maaf, kau terlambat. Dia akan pergi,” kata sang tabib dengan menyesal, “berikut ibunya.” sang tabib menambahkan. “Tidaaaak!” teriak Bathack, dan wajah Meissa memucat.

“Terus berusaha! Luka dalamnya hampir berhasil kusembuhkan dengan sempurna! Sudah hampir!” teriak Kaine dengan suaranya yang mengerikan. “Tapi bayinya sudah mau mati! Tak ada lagi yang bisa kita lakukan!”

Saat-saat genting seperti itu, pintu menggebrak terbuka. Eko datang, dan kedua tangannya telah menyala dengan sinar putih. Ia membungkuk di sebelah Meissa, dan melakukan hal yang sama seperti sang tabib. “Jangan menyerah.” katanya.

“Tapi ini cuma memperlambat! Masih tidak cukup!” pekik sang tabib yang mulai panik.

“Terus!” seru Eko, dan pintu terbuka sekali lagi. Amber melayang masuk. Tubuhnya dililit api yang sangat terang, dan ia melayang-layang rendah di atas tubuh Meissa, yang kini mulai bersinar merah terang. Adin dan Daffy menghambur masuk.

“Kita mulai berhasil… tapi masih kurang!” pekik sang tabib. “Lebih kuat lagi! Anaknya menguat, tapi ibunya makin lemah!” sang tabib memperingatkan, dan pintu menggebrak terbuka sekali lagi. Yogin masuk.

Ia membuat bola sinar perak dan menembakkannya ke perut Meissa. “Anaknya sudah sembuh! Sekarang fokuskan ke ibunya!” teriak Eko.

Tapi sang tabib berkata, “Tidak, nyawa ibunya sudah terca…,” ia terhenti, “Ada yang menahannya! Ada yang menahan nyawanya agar tetap di tubuhnya! Ayo berusaha!” seru sang tabib, kini suaranya optimis. Apa yang menahan kematian Meissa, jawabannya baru saja akan terjawab. Untuk terakhir kalinya, pintu menggebrak terbuka.

Ratu Darpy menghambur masuk, dan kedua belah tangannya menyala dengan sinar putih yang amat dasyat. “Inilah kemampuan magic Apocalypse!” serunya.

“Nah, kita akan berhasil! Terus berjuang!” seru Eko. Setelah agak lama berjuang dengan white magic dari segala penjuru, warna kulit Meissa kembali pada tempatnya, dan ia bisa bangun.

“Kandunganmu aman sekarang,” kata sang tabib. Meissa memeluk Bathack dan memekik senang.

“Sebaiknya kau umumkan kehamilanmu,” kata Ratu Darpy.

“Baiklah. Akan kami umumkan segera,” kata Bathack.

“Dan upacara kematian untuk Gabriela sudah siap,” kata Yogin.

Peti mayat Gabriela diletakkan di sebuah ruangan kecil. Berdasarkan tradisi, bagi mereka yang mau memberi penghormatan terakhir tidak boleh lebih dari satu orang sekaligus dan tak boleh ada yang menonton. Maka dari itu, memberi penghormatan terakhir hanya boleh satu persatu. Tentu Marinolah yang pertama. Ia melihat jenasah Gabriela yang terbujur kaku dan dipakaikan pakaian kebesaran kerajaan. Marino mencium pipinya.

“Akan kupenuhi janjiku padamu. Aku janji,” lalu ia mencium bibir Gabriela untuk terakhir kalinya. Sebagai orang pertama yang melakukan penghormatan, ia berhak mengambil segenggam debu istana, dan meratakannya ke tubuh jenasah Gabriela. Ini adalah debu ajaib milik Crin dulu. Sebetulnya dari dulu hanya ada cukup untuk dioles ke tubuh satu jenasah saja. Tapi setiap ada orang istana yang wafat di medan perang, debu ini akan muncul lagi di wadahnya. Debu ini berwarna putih dan sangat ringan.

Konon fungsinya adalah agar pengganti jabatannya kelak akan lebih baik dari almarhum/almarhumah. Debu ini harus diolesi merata ke seluruh kulit sang jenasah kecuali rambut kepala jika jenasahnya seorang perempuan, dan merata pula ke seluruh pakaian yang dikenakannya saat tewas atau terluka yang menyebabkan ia tewas, jelas pula bahwa sang jenasah tidak mungkin memakai pakaian tersebut karena jenasah dipakaikan baju istana. Dan orang yang berhak mengolesinya, seperti yang kita ketahui, adalah orang yang pertama melakukan penghormatan ini.

Menurut ramalan, orang yang mengolesinya akan berada dalam bahaya yang amat sangat luar biasa berbahaya dan semua akan menyerah atau tak mampu menolongnya, tetapi akan selamat di saat yang sama sekali tidak terduga oleh seseorang yang dulu merupakan musuhnya. Begitulah ramalannya.

Dulu Gusrizant juga diolesi debu ini, karena kematiannya yang melindungi Meissa juga dianggap mati dalam pertempuran. Entahlah, tapi debu itu memang muncul begitu saja saat beliau tewas. Maka dari itu, semua orang optimis akan pemerintahan Marino ini. Sebelum Gusrizant, tak ada satupun Caliph yang tewas di medan perang kecuali yang tepat sebelumnya. Dia diolesi debu Crin, dan memang saat Gusrizant menggantikan tahtanya, pemerintahan membaik dan berkembang dengan amat drastis. Dan Gusrizant juga wafat dan diolesi debu Crin, lalu Marino menggantikannya. Wajar saja kalau semua optimis bahwa Marino akan membuat Crin’s Blade masyur melebihi pemerintahan Gusrizant yang sudah masyur.

Marino keluar dari ruangan jenasah dan satu persatu orang masuk untuk memberi penghormatan terakhir. Marino baru tahu fungsi debu Crin saat keluar dari ruangan jenasah karena ia bertanya pada Jasmine dan Black. Begitu ia diberi tahu bahwa orang yang mengolesinya akan mengalami bahaya yang amat sangat, dan selamat, Marino menjadi percaya pada legenda itu. Yang mengolesi debu pada Gusrizant adalah Meissa, baru saja Meissa dan kandungannya hampir mati, dan hampir tak ada seseorangpun yang mampu menolongnya. Yang ternyata kemudian menolongnya ternyata Ratu Darpy, yang dulu bermusuhan dan menjajah Eleador. Tapi ia kemudian merpikir mengenai hal yang lain.

Pengganti yang wafat akan lebih bagus, dan pada permintaan terakhirnya, Gabriela meminta agar Adin yang mengambil alih pasukannya. Apakah Adin akan membuat pasukan kavileri itu jauh lebih kuat? Tapi bukan itu yang membuatnya penasaran. Apa sih hutang Gabriela pada Adin, hingga ia akan menyerahkan pasukannya jika tak bisa membayarnya?

Setelah semua melakukan penghormatan terakhir, Gabriela dimakamkan di makam para prajurit disaksikan oleh semuanya. Marino pulang dari pemakaman itu, dan mencari Adin. Ia menceritakan ketiga permintaannya pada Adin, yang amat terkejut.

“Apa sih hutangnya padamu?” tanya Marino.

“Tidak kusangka benar terjadi. Begini. Beberapa minggu yang lalu, ia memintaku menemaninya berjalan-jalan ke pasar. Ia berbelanja berbagai barang, lalu berhenti di sebuah pub untuk minum. Ia memesan minuman keras dan menjadi amat mabuk, tapi masih cukup sadar untuk mengatakan bahwa ia yang akan membayarkan semuanya. Begitu ia mencari kantung uangnya, rupanya sudah tidak ada.”

“Ia kecopetan. Akulah yang membayarnya. Nah, ia berjanji untuk mengganti uangku jika sudah dapat uang lagi. Uang yang tercopet itu seluruh uang yang ia punya. Sambil bercanda, ia mengatakan bahwa ia akan menyerahkan seluruh pasukannya padaku jika ia tidak membayarnya hingga bulan depan waktu itu. Aku tahu ia akan bercanda. Dengan terjadinya perang kemarin, kami melupakan hutang itu. Toh cuma satu botol minuman saja. Dan ia memang gugur… er, tunggu… dua hari sebelum batas ia membayar, yaitu sebulan. Dan ia benar memberikan pasukannya padaku?”

Marino mengangguk, “Akan kuminta persetujuan pasukannya dan pihak istana, sebab bagaimanapun juga, itu permintaan terakhirnya.”

“Tahukah kau mengapa ia mengajakku? Karena ia ingin tahu tentang kau. Ia amat menyukaimu. Tadinya ia mau meminta Daffy, tapi Daffy amat sibuk dengan Yogin, dan rasanya tidak enak mengganggu dengan mengurus cintanya denganmu. Eko juga sudah menjalin hubungan dengan Jasmine. Dan aku saja yang menganggur. Maka itu dia menghujaniku dengan berbagai pertanyaan. Dan kuberi tahu padanya cara untuk mengetahui siapa cinta sejatimu,” kata Adin.

“Ya, Gabriela dan aku sudah melakukannya. Dia sudah tahu siapa cinta sejatiku meski aku belum menyadarinya. Daisy Asalaz,” jawab Marino tenang.

“Nah itu artinya bahwa kau dan Gabriela akan amat serasi, tapi kau akan jauh lebih baik bersama Daisy. Tapi, sebetulnya, menurutku, cara mengetahui ini agak kurang pantas, tapi tak apa juga, sih,” gumam Adin.

“Benar juga. Masa belum ada apa-apa aku sudah… hei, tunggu dulu. Kau yang memberitahukan ini padanya. Kan yang fatician dia. Kau tahu dari mana?” Tanya Marino.

“Waktu aku tinggal di hutan Dark Land, aku berbincang dengan banyak hewan dan monster, sobat. Salah satunya mengaku pernah tinggal di hutan fatician. Aku percaya saja, karena aku tahu bahwa monster alami seperti itu tidak kenal dengan yang namanya bohong. Ia yang mengatakan semua itu padaku. Tentunya karena aku juga tadinya tidak percaya adanya fatician. Makanya aku amat tertarik. Dan, sebelum melakukannya, Gabriela melakukan ritualnya, ya?”

“Ya. Tetapi dari mana kau tahu bahwa Gabriela seorang fatician, sehingga akhirnya memberitahukan ini padanya,” tanya Marino penasaran.

“Tentu saja karena aku sudah tahu semua kelebihan fatician, dan ciri mereka, yang sebetulnya cuma satu dan mudah untuk diingat tapi sulit dibayangkan. Mereka amat, tidak, bahkan terlalu. Mereka terlalu cantik. Dan saat itu, orang dengan ciri tersebut berjalan denganku. langsung saja kutanyakan hal ini padanya.”

“Begitu? Jadi… akan kuurus penggantian komandan pasukan. Kau akan segera menempati posisinya. Setelah itu, kita akan mengurus sebuah ekspedisi. Kita akan membawa kembali Daisy Asalaz. Setelah tertunda sekian lama,” ujar Marino dengan ekspresi kerinduan dan sesal yang amat mendalam.

***

                Sidang The Chain telah digelar, di gedung resmi The Chain yang letaknya di Eleador, di tengah hutan musiman, selatan Eleador. “Kita mulai. Begini. Saya ingin melakukan misi yang bersifat pribadi. Daisy Asalaz, telah kalian dengar dari mata-mata kita sebelumnya, akan saya selamatkan dan bawa kemari. Karena ini bersifat pribadi, saya tidak akan melibatkan The Chain. Tujuan saya menggelar sidang ini, adalah untuk menentukan masalah kepemimpinan The Chain. Masa jabatan saya masih ada sekitar tiga bulan lagi. Sehubungan dengan kepergian saya dalam misi ini, saya ingin meminta jabatan saya digantikan. Masalahnya, apakah digantikan sementara saja, atau sekalian saja masa saya diakhiri. Tolong dipertimbangkan,” kata Marino.

Setelah persidangan yang cukup singkat, hasil diputuskan, bahwa jabatan Marino sebagai ketua umum The Chain dinyatakan berakhir pada sehari sebelum keberangkatannya ke misi ini dan bersifat permanen hingga gilirannya tiba lagi. Setelah diskusi lagi, telah diputuskan bahwa Ratu Darpy yang akan menjadi ketua umum berikutnya. “Misi penyelamatan ini,” tanya Argus dari fraksi peradilan Apocalypse, “akan kau lakukan dengan pasukan atau kau mau mengirimkan sebuah tim kecil saja? Bagaimana rencanamu?”

“Maaf, tapi ini adalah misi pribadi intern Crin’s Blade dan kelihatannya bukan urusanmu,” ketus Rido Matius.

Argus bangkit dengan mendadak, “Saya mau bertanya, siapa tahu bisa membantu! Dasar mayat hidup!” raungnya, dan sidang menjadi riuh. Argus melompat dan hendak menyambar Rido dengan berang, tapi Tiza, dari fraksi politik Apocalypse berusaha menghadangnya, dan untuk mencegah keributan. Tapi Argus terlambat menyadarinya dan dihantam saja Tiza yang bertubuh tak begitu besar. Melayanglah dia.

Melihat Tiza yang terjatuh, Bona, juga dari fraksi politik Apocalypse, bangkit dan mendorong Argus hingga terjatuh. Chezzy dari fraksi peradilan Eleador bangkit dan berusaha menengahi. Tapi karena usianya yang relatif muda, sembilan belas, dan tubuhnya yang tak lebih dari Tiza, sekali bentak oleh Argus, nyalinya langsung ciut. Melihat itu, Isabel, yang tak kalah mungil dengan Chezzy, maju menengahi, tepat ketika Argus dan Bona saling menerjang. Maka Isabel yang berada tepat diantara mereka terkena hantam.

Merasa tidak rela istrinya diperlakukan begitu, apalagi Isabela sedang mengandung, Phalus menerjang keduanya sekaligus. Yang lain berusaha menengahi, tapi ujung-ujungnya malah ikut berkelahi. “Berhentiiiiiii!!!!!” teriak Marino, tapi tidak ada gunanya suaranya tenggelam. Saat ribut seperti itu, tiba-tiba…

DUUUAAAAAARRRRRRR!!! “SEKARANG BERHENTILAH KALIAN SEMUA! DASAR KALIAN GOBLOK! PECUNDANG! BERSIKAP DEWASA SEDIKIT!” raung Ratu Darpy. Tongkat sihir kecilnya telah terhunus dan ujungnya menyala dan mengeluarkan beberapa percikan api kecil. Seketika itu juga ruangan tenang kembali. Ratu Darpy, yang biasanya amat berwibawa, agak sombong sedikit, kini tampak seperti burung nasar yang amat mengerikan, dan sangat bertolak belakang dengan rupa aslinya, yang sebetulnya sangat cantik.

Sidang dilanjutkan kembali. “Begini, Argus. Memang itu intern Crin’s Blade, tapi akan aku beritahukan padamu. Aku akan membawa pasukan dan juga tim kecil. Dan maaf, aku ingin melakukan misi ini sendiri, tanpa campur tangan kerajaan lain. Terima kasih atas tawarannya. Nah, untuk masalah kedua. Komandan pasukan kavileri Crucifier Batalion, Gabriela Diggory, seperti yang kita ketahui, telah gugur. Pasukan itu, kini telah memiliki komandan baru, yakni Adin Cardalos. Apakah dia juga bisa diangkat menjadi anggota The Chain juga, menggantikan Gabriela?” tanya Marino. “Fraksi peradilan?” dan ruangan hening sejenak, sementara fraksi peradilan sedang berdiskusi dengan suara yang pelan.

“Bagaimana sifat kepemimpinannya menurut anda? Kami percaya kau bisa menilainya dengan objektif,” kata Arjuan dari fraksi peradilan Eleador.

“Saya, Eko Lakasonos, Daffy, dan Adin, memiliki kemampuan yang sama dalam berbagai bidang. Jika kalian mengatakan bahwa saya unggul dalam sesuatu, maka ketiga orang ini juga memilikinya dengan kualitas dan kuantitas yang kurang lebih sama. Oh, ya. Adin ini mampu berkomunikasi dengan hewan,” lalu semuanya mulai ribut lagi.

“Perlukah kalian kubentak lagi?” teriak Ratu Darpy, mulai jengkel, dan ruangan tenang kembali.

“Menurut kami, rasanya ada baiknya jika dia kami interview. Hanya oleh, dan disaksikan oleh fraksi peradilan. Bagaimana kalau besok?” Chezzy menawarkan.

“Baiklah. Akan kuajak dia besok, untuk kemari,” kata Marino.

Sepulang sidang, Marino langsung menggelar sidang lagi, tapi ini sidang intern Crin’s Blade untuk menentukan siapa saja yang akan ikut misi penyelamatan Daisy. “Yang pasti, Adin, Eko, dan Daffy akan ikut. Untuk melengkapi tim kecil ini, saya minta… Saphirre, Marissa, dan Ullyta. Untuk pasukan yang akan kubawa…,” tapi Marino dipotong oleh Black.

“Kali ini anda jangan menolak. Saya dengan tegas menyarankan the White Garda,” katanya.

“Baiklah. Selain itu, saya minta para geriliawan, Jasmine?”

Jasmine mengangguk.

 

“Selama saya pergi, kepemimpinan negeri ini untuk sementara saya serahkan pada kau, Rido Matius, dan kau juga Aisha Zuchry. Misi ini akan saya laksanakan dua hari lagi,” kata Marino.

“Bagaimana kau akan ke sana dengan membawa dua pasukan yang salah satunya akan naik kuda?” tanya Yogin dengan nada pedas.

“Pertanyaan bagus,” kata Marino.

“Nah, sebelum itu, saya juga harus memutuskan berapa personil yang akan saya bawa. Dari the White Garde, saya bawa lima ratus saja. Dan saya butuh 1.500 gerilyawan. Tentu saya minta komandannya ikut. Doughlas, kita punya transportasi untuk itu?” dengan bangga Doughlas Puruhita menyatakan bahwa ia bisa memberikan lebih dari sekedar transportasi.

“Perang kemarin. Pasukanku menawan lebih dari delapan kapal transportasi raksasa Devilmare yang kapasitas maksimumnya bisa lebih dari tiga ratus orang. Selain transport yang cukup, ini juga merupakan penyamaran,” kata Doughlas.

“Mereka tidak sebodoh itu, sobat. Baiklah, kalau begitu. Saya akan butuh tujuh kapal secara keseluruhan. Tentu saya minta satu skuadron kapal konvoi dengan awak dan persenjataan lengkap. Apa isinya satu skuadron?” “

Satu Juggernaught dan sepuluh Destroyer Galleon.” kata Doughlas.

“Dua skuadron, kalau begitu. Saya minta penanggung jawab kapal mata-mata yang pernah ke sana untuk ikut. Herz, maksudku. Dan tolong panggilkan dia agar dia bisa memberikan informasi tentang pendaratan terdekat dan teraman.”

Herz sudah datang. Marino menanyakan lokasi pendaratan yang terdekat dan teraman, sekaligus situasi target.

“Wah, kalau itu, sangat enak, paduka,” katanya agak bersemangat, “seperti yang waktu itu saya katakan, lokasi puri itu ada di hutan belantara di timur Devilmare. Nah, saya jelaskan wilayah geografisnya dulu. Di timur Devilmare, sebetulnya agak ke selatan juga, dekat perbatasan dengan negara di selatannya, ada sebuah hutan belantara. Di tepi timur hutan itu, merupakan pantai. Inilah lokasi strategis untuk mendarat, sebab pantai ini sepi dan terlarang bagi siapapun. Tapi tidak ada yang menjaga. Puri di mana Daisy ditawan, ada sekitar dua kilometer ke dalam dari garis tepi hutan. Tapi puri ini dijaga amat ketat, apalagi lima ratus meter di utara puri ini, ada fasilitas militer.”

Phalus, Aisha, dan Feizal berdiskusi sebentar, dan akhirnya Aisha angkat bicara. “Kebetulan kau telah memilih pasukan gerilya juga. Rencana kami, jadi kau dan pasukan the White Garda menyerbu puri secara langsung, lalu pasukan gerilia, sebagian besar, mungkin sekitar seribu dua ratus, disebar di antara puri dan fasilitas militer untuk menghentikan bantuan yang mungkin datang dari sana, tapi terutama mencegah ada yang meminta bantuan dari puri ke fasilitas militer, jadi pihak Devilmare sama sekali tidak akan mengetahui hal ini. Tiga ratus sisa dari pasukan gerilya akan mengepung merata puri untuk mencegah ada yang kabur, jadi akan kita bantai habis penghuni puri. Begitulah.”

Marino setuju.

“Setelah itu, saya lupa memberi tahu pada kalian. Untuk melewati lorong menuju area bawah tanah, hanya bisa sepuluh orang paling banyak, karena ada semacam sihir anti orang yang amat kuat, dan bekerja pada orang yang  masuk setelah orang yang kesepuluh. Di depan ruangan ada papan yang akan menunjukkan berapa orang yang yang sudah melewati lorong tersebut, dan belum keluar lagi. Tentunya orang orang yang ditawan di dalam tabung tidak dihitung,” kata Herz. “Kalau begitu, strategi sudah siap, tinggal misi secara garis besar. Kalau ini, aku sudah punya konsep. Kita datang, atur formasi dan tempatkan pasukan pada tempat-tempat yang tadi dikatakan Aisha, serbu puri, tim masuk, selamatkan target, tim keluar, pasukan mundur. Selama misi berlangsung, dua skuadron angkatan laut kita akan menunggu dan mengantisipasi patroli.”

“Tapi bagaimana jika kau bertemu patroli? Tentu kau bisa menghabisinya dengan mudah. Tapi jika patroli diserang, pasti akan memberi isyarat untuk pasukan patroli lainnya dan mendatangkan bala bantuan,” tanya Marino pada Doughlas.

“Oh, untuk itu, pasukanku punya prosedur khusus dan ini buatan Yang Mulia Crin sendiri. Jangan khawatir,” tukas Doughlas buru-buru. “Eh, satu lagi. Kata Jernandez, ada prosedur khusus pula untuk mengeluarkan orang dari tabung tersebut, yang aku belum tanyakan. Nanti, sebelum menyerbu, biarkan aku masuk dan bertanya dulu. Aku sudah menjadi sahabat akrabnya, dan ia pasti mengizinkan aku masuk kapan saja. Tapi aku punya satu permintaan. Jangan bunuh Jernandez, tapi tawan saja dia. Kumohon,” pinta Herz.

“Err, baiklah. Tapi akan diusahakan. Jika memang terpaksa, akan kami bunuh. Malah kalau tidak perlu, tak ada seorangpun yang akan kita bunuh, sobat. Nah, masalah sudah selesai, dan sidang ditutup. Semua yang saya sebutkan akan ikut, berkumpul di sini lagi dua hari lagi. Pagi. Kita akan sarapan sambil membahas detailnya,” dan sidang pun dibubarkan.

Marino langsung pergi ke kamarnya dan menemukan seorang prajurit berseragam Apocalypse berdiri di depan ruangannya. “Ada surat untuk anda, dari Ratu sendiri,” katanya dan menyerahkan segulung surat padanya. Isi surat itu adalah sebuah undangan pernikahan. Ratu Darpy akan menikah dengan seorang bangsawan muda bernama Murdock. Pernikahan ini akan berlangsung besok. Sekarang sudah malam, dan sebaiknya ia berangkat sekarang agar bisa tiba besok pagi.

Segera saja ia memanggil kakaknya, Marissa, untuk ikut pergi. Ia mengajak Black, Aisha, dan hampir semua punggawa kerajaan yang bersedia ikut. Tengah malam, semuanya memulai perjalanan dengan serombongan kereta kuda. Marino menaiki kereta kuda yang paling depan, bersama Yogin, Daffy, Aisha, dan Feizal.

“Tapi kau juga lucu,” kata Feizal, lalu mencubit pipi Aisha, dan mereka berdua tertawa tawa.

Setibanya merek di istana pusat Apocalypse, Ratu Darpy sendiri menyambut mereka. “Kau tahu bahwa kabar kehamilan Meissa sudah beredar? Sudah kuduga bahwa rakyat menerimanya. Nah, bagaimana kalau rombongan kalian beristirahat dulu? Kalian pasti lelah. Ayo, pesta akan dimulai sekitar tengah hari,” lalu mereka diantarkan ke kamar masing-masing.

Tak lama setelah Marino berusaha tidur, terdengar sebuah ketukan. Black masuk. “Marino… sudah saatnya aku… memberitahukan padamu. Siapa aku sebenarnya,” katanya. Marino terkejut. Identitas asli Black? Memang belum pernah ada yang melihat wajah asli Black karena tertutup helm dan topeng besinya. “Maaf, aku tak memberitahukan ini sebelumnya tapi tolong jangan beritahukan pada siapapun. Janji?” tanya Black. “J…Janji.” kata Marino. Black melepas helmnya. Ternyata ia seorang wanita. Namun bukan ini yang membuat dia amat terkejut. Rambutnya merah, persis seperti rambut kakaknya, dan wajahnya pun sangat cantik. Persis seperti kakaknya…

“Marissa?” tanya Marino kaget melihat wajah kakaknya nongol di balik helm itu, atau setidaknya… mirip. “Aku bukan Marissa. Namaku Marcia. Marcia Obelos,” Marino tentu saja bertambah kaget.

“Aku kembaran kakakmu. Pergi dari Zenton, dibawa seseorang kemari. Aku tidak tahu yang membawaku siapa, mengapa, tapi aku hanya tahu bahwa aku berada di sini. Orang yang membawaku itu menjelaskan siapa aku. Dan ia memintaku untuk menyamar jadi seorang lelaki. Entah kenapa. aku waktu itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Tapi ini sudah berlangsung terlalu lama. Terlalu lama untuk dibocorkan. Tapi kau kuberi tahu. Ya. Jangan bertingkah aneh dan anggap saja aku seperti Black. Oke? Aku pergi dulu dari sini, sebab aku harus bertemu Ratu Darpy,” lalu dia merapikan rambutnya, memasang helmnya dengan berhati-hati agar tak ada sehelaipun rambut yang tampak, dan pergi.

Kakaknya ternyata kembar… tapi rasanya itu bukan sesuatu yang merisaukan kalau belum bisa mengakibatkan Rafdarov V menciptakan bom nuklir, pikir Marino. Lalu ia tidur.

***

                Ruangan sama sekali gelap, sunyi, dingin, dan jelas amat mencekam. Sesekali terdengar suara bisikan yang mengerikan, dan tidak jelas dari mana asalnya. Marino tak tahu sama sekali di mana ia berada sekarang. Ia kemudian mencoba melangkah ke depan, satu langkah saja. Rasanya ada yang baru saja bergerak di kanannya. Dia mengulurkan tangannya berusaha menyentuh apapun yang mungkin ada di situ dan ternyata merupakan tubuh seseorang.

“Siapa di situ?” tanyanya agak ketakutan dan melompat mundur… dan menabrak tubuh lain.

“Ini aku. Eko. Di mana kita sekarang?” terdengar sebuah bisikan.

“Eko? Kau di situ? dan Marino, ya?” terdengar lagi suara orang lain, yang bagi Marino jelas sekali merupakan suara Daisy.

Ada suara lain lagi muncul, “Hei. Tempat apa ini? Bagaimana kita bisa ada di sini?” suara Daffy.

“Mungkin ini adalah neraka,” sahut suara Adin, nampaknya dari kejauhan, dan seketika itu ruangan mendadak terang, dan kelimanya bisa melihat satu sama lain. Ruangan itu adalah sebuah ruangan raksasa yang tak ada orangnya dan di dindingnya yang berlumut berjajar obor yang baru saja menyala.

Di tengah ruangan ada semacam batu yang disusun mirip untuk tempat peletakan sesajian untuk setan dan ada sebuah obor melayang di atasnya. Hanya saja api yang menyala di obor tersebut bukan berwarna merah, melainkan hitam-hijau tua yang kelihatannya mengerikan, dan jahat. Daisy mencoba berjalan ke sebuah pintu yang besar, terletak di seberang ruang, lalu mencoba membukanya. Ia tidak bisa menyentuh pintunya.

“Kita sudah mati! Daisy! Cobalah kau berjalan menembus pintu itu,” usul Daffy bersemangat. Daisy mengang-kat tangan kirinya, dan mencoba apakah ia bisa menembusnya. Ternyata ia bisa. Keempat sahabatnya mendekat.

“Wow,” kata Daisy, tapi tiba-tiba pintu menggebrak terbuka.

Sesosok pria yang besar dan menyeramkan masuk. Dia setinggi tiga meter, mungkin, dan memakai jubah yang sangat besar dan hitam, yang menutupi sebagian wajahnya. Marino dan yang lainnya agak terkejut, tapi kelihatannya sosok itu tidak bisa melihat mereka. Sang sosok raksasa mendekati tempat sesajian dan membuka jubahnya. Ternyata wajahnya tidak asing sama sekali bagi Marino dan kawan-kawannya. Dia memang tampan, tapi ekspresinya itu, sengar dan haus darah. Dia adalah Ludovic Rafdarov, atau Rafdarov V.

Diangkatnya pedang raksasa miliknya, dan membenam-kannya di tempat sesajian batu, dan menancap dengan mulus, tegak lurus dengan lantai, dan tepat di atasnya masih melayang obor api hitam. Rafdarov mencabut bandul di lehernya, lalu dengan hati-hati meletakkannya di api hitam pada obor di atas pedangnya itu. Diangkatnya kedua belah tangannya tinggi ke angkasa, lalu berteriak ke udara kosong.

“Wahai Lucifer. Sarangmu sudah hampir kupenuhi dan pada saatnya nanti, kau akan kubangkitkan,” lalu terdengar raungan melengking aneh, menggema di seluruh ruangan, dan kelima remaja yang ada di situ terpaksa menutup telinga mereka. “Tapi sekarang, aku mau memanggil kekuatanmu. Aku sekarang sedang sangat membutuhkannya. Para bajingan di Dark Land sangat menggangguku, lagi. Aku butuh tenagamu! Berikan aku pasukanmu sekali lagi, Lucifer!” dan ia pun meletakkan kedua belah tangannya di atas api hitam itu.

Eko mendekat dan berusaha meninju Rafdarov. “Jangan lakukan! Nanti kita ketahuan!” bisik Marino, agak panik, tapi itu tidak terjadi. Tangan Eko itu menembus begitu saja di tubuh sosok raksasa itu. Api hitam itu tiba-tiba memancarkan cahaya hitam kehijau-hijauan ke seluruh penjuru ruangan, lalu padam. Di hadapan Rafdarov kini berdiri seekor mahluk aneh. Mirip iblis yang dulu pernah dilawan Marino, tapi yang ini dua kali lebih besar. Dia tak memegang senjata apapun dan jelas kenapa. Cakar-cakarnya sangat besar. Dia bersayap dan wajahnya seperti banteng cacat yang tak memiliki tanduk. Giginya besar-besar sekali. Terdengar suara bisikan yang dingin dan menyeramkan.

“Inilah Lethifold, dia adalah pelayanku. Yang paling lemah, sebetulnya, tapi dia sepuluh kali lebih kuat dari pasukanku yang biasa. Dan…,” bisikan itu berhenti sejenak saat sebuah kilatan hitam lain menyambar dari obor api hitam. Dari lantai mendadak timbul iblis-iblis yang sangat banyak, dan muncul begitu saja dari lantai bagaikan dari air saja. Jumlahnya ribuan, dan karena ruangannya sangat besar, maka semuanya muat berbaris sangat rapat, dan Lethifold berdiri paling depan.

Sesosok pria tua dan botak masuk. Dialah Morris yang merupakan musuh bebuyutan Kaine. “Pasukan lagi, Tuan?” tanyanya dengan nada sopan, tapi berbahaya.

“Tentu saja. Apa mereka tampak seperti kantung beras? Tapi aku tidak punya rencana untuk menyerang mereka seperti waktu itu. Aku punya sebuah rencana lain, dan butuh bantuanmu,” kata Rafdarov.

“Apa itu persisnya?” tanya Morris, kemudian Rafdarov tersenyum.

“Dark Land… misterius… tapi akan aku kuasai sebentar lagi! Kemari, Morris. Akan kukatakan padamu di ruanganku saja. Entah mengapa aku merasakan ada yang melihat kita di sini selain para pasukan Lucifer ini,” kata Rafdarov, matanya menerawang mengelilingi ruangan.

Morris mengengkat sebelah alisnya. “Mengawasi?” ia agak heran. Setelah sekian detik diam akhirnya Rafdarov mencabut pedangnya, mengambil bandulnya dari obor api hitam, lalu pergi. Morris mengikutinya. Sebelum dia menutup pintu, dia melirik lagi ke dalam ruangan dengan heran. “Ikuti mereka.” kata Adin, tapi tiba-tiba udara berputar aneh, dan…

Ternyata sebuah mimpi. Mimpi yang kelihatan sangat nyata. Atau… apakah sama seperti yang dulu, saat ia, Eko, Daffy, dan Adin, memimpikan hal yang sama? Dan ternyata memang betul. Eko, Adin, dan Daffy mimpi hal yang sama. Aneh. Tapi apakah itu betul-betul terjadi semalam di ruangan Rafdarov sana?

***

                Sekitar tengah hari, seseorang membangunkannya. Ternyata Marissa yang asli. Setelah berpakaian rapi, ia pergi ke ruang di mana pesta berlangsung. Orang begitu ramai disana. Karena Marino ini orang yang penting, ia bisa duduk semeja dengan Ratu Darpy. Di sana juga ada Meissa dan Bathack.

“Tak kusangka rakyat menerima kenyataan dan kehamilanku dengan tangan terbuka. Mereka tidak mencercaku,” kata Meissa dengan lega. Suami Ratu Darpy yang baru, memang sangat tampan dan muda. Umurnya baru dua puluh satu tahun, yaitu lebih muda satu tahun daripada Darpy sendiri.

“Wah, selamat, ya? Kalian kelihatannya amat serasi,” kata Marino.

“Ya. Aku amat mencintainya. Betul. Serasi? Ha..ha..! Memang, mungkin. Aku akan punya seratus anak nanti! Huahahaha!” Ratu Darpy tertawa terus. Ia tampak sangat bahagia.

Petang telah tiba, dan itu menandakan waktunya Marino dan yang lainnya untuk pulang untuk mempersiapkan untuk misi besok. Konvoi tiba kembali di istana Crin’s Blade saat malam telah larut. Marino segera bergegas ke kamarnya untuk mendapatkan tidur yang cukup.

Ia terbangun tiba-tiba pada keesokan paginya. Segar, karena ia tidur tanpa mimpi. Atau mungkin begitu jika memang ada hubungannya. Ia bergegas menuju ruang pertemuan. Di sana baru ada Black, sebagai komandan the White Garda, Marissa, dan Eko. Mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya semua telah tiba. Mereka adalah Marino, Eko, Daffy, Adin, Marissa, Saphirre, Herz, Ullyta, lalu ada Jasmine, Phalus, dan Doughlas. Seorang pelayan masuk dan membagikan piring-piring berisi daging panggang dan jus.

“Saya akan memberi tahu garis besar misi kita dan tugas setiap pasukan. Doughlas, pasukanmu mengiringi. Kau tahu, dan Herz akan ikut kapalmu untuk memberi tahu arah. Setelah tiba, kita semua akan masuk ke hutan, lalu mendirikan kemah di dalam hutan, sekitar lima ratus meter dari puri. Doughlas, pasukanmu patroli. Herz, kau masuk ke puri dan cari tahu bagaimana membebaskan orang dari tabung. Seseorang akan menemanimu. Jasmine, kau akan menemaninya. Katakan saja kau adiknya.”.

“Jangan. Aku sudah memberitahukan bahwa adikku bernama Merry dan rambutnya ikal pendek. Jasmine kan berambut lurus panjang,” kata Herz, dan Eko kelihatan agak lega. Jasmine sendiri nyengir menahan tawa.

“Katakan saja bahwa ia anakmu,” canda Daffy dan semuanya tertawa riuh.

“Sudahlah. Begini. Jasmine akan menemani hingga seratus meter dari puri. Herz, kuminta kau mencari cara masuk dengan tidak mencurigakan. Nah, setelah kau mengetahui caranya, keluar dan kembali ke kemah. Pasukan gerilya, sebagian kecil kepung puri untuk mencegah siapapun keluar, tapi dari jarak tak terlihat. Itu keahlianmu, betul, Jasmine? Dan bagian besarnya menyebar, dan meng-cover jalan dari fasilitas militer ke puri. Ingat. Jangan menyerang jika tak ada serangan, dan tetaplah tidak terlihat.”

“Setelah semua pasukan gerilya menempati posisi masing-masing, pasukan the White Garda menyerang puri. Ingat, tawan saja Jernandez jika bisa. Jika sudah berhasil, tim masuk ke ruang bawah tanah, selamatkan target, keluar, pasukan mundur total ke kapal, lalu kita pulang. Jelas?” semua bersorak. “Kalian semua punya waktu hingga makan siang untuk memberitahu dan memperkenalkan strategi ini pada pasukan kalian. Ini untuk Jasmine, Black, dan Doughlas tentu, sisanya, siap-siap saja. Ingat. Black, lima ratus personel. Jasmine, 1.500 dan Doughlas, dua skuadron. Bertemu lagi setelah makan siang di pelabuhan militer, beserta pasukan yang telah ditentukan. Rapat dibubarkan.” Setelah menghabiskan sarapan, semuanya pergi menuju kamar masing-masing.

Marino pergi ke kamarnya mengambil pedang yang ia dapatkan di medan perang beberapa hari yang lalu, mengenakan senjata kembarnya yang telah hancur berantakan, dan tinggal gagangnya, dan langsung berangkat ke pelabuhan militer sendirian. Sebentar lagi ia akan berangkat untuk menyelamatkan sahabatnya, yang telah tertunda selama bertahun-tahun. Ia akan menyelamatkan orang, yang menurut ramalan Gabriela adalah cinta sejatinya. Ia akan menyelamatkan Daisy Asalaz.

[End of Chapter X]

[Coming up next, Chapter XI: The Old Group]

Legend of Legends: Chapter IX — Devil Massacre

2 Comments

I hereby present Chapter 9: Devil Massacre! Enjoy ^_^

—————————————————————————————————————————

CHAPTER 9

DEVIL MASSACRE

                Beberapa koki masuk dan membawa berpiring-piring makanan yang beraneka ragam dan jelas sangat lezat, lalu menaruhnya berjajar di sepanjang meja. Para anggota tinggal membalik piring kosong yang sudah ada di hadapan mereka dan mengambil lauk atau sayuran yang mereka inginkan. Ada kalkun panggang, ikan panggang, steak, salad, dan berbagai macam masakan lainnya, buatan koki-koki terbaik Crin’s Blade. “Silahkan makan dulu sebelum rapat. Lebih baik makan memikirkan rapat daripada rapat memikirkan makan karena lapar,” kata Marino dan semua tertawa.

Setelah semua selesai makan, rapat dimulai. “Untuk mengantisipasi kapal dagang hipnotis?” Marino bertanya.

“Biar pasukan setempat yang tangani. Akan kuberikan perintah pada mereka.” kata Meissa.

“Oke. Masalah itu sangat mudah untuk diatasi. Kini, kita perlu membahas soal agresi besar-besaran Devilmare ke wilayah Dark Land. Kita harus membagi-bagi pasukan,” kata Ratu Darpy. “Dua belas anggota fraksi militer akan di sebar. Karena yang akan diserang ada tiga sektor, yaitu wilayah pantai Utara, Timur, dan Barat, maka dibagi rata saja. Pada tiap area tersebut disebar empat anggota fraksi dengan pasukannya,” usul Darpy.

Tadinya beberapa bergumam setuju, tapi Rido langsung berdiri untuk menyatakan keberatannya. “Kalian tidak tahu, dan sama sekali tidak mengerti. Yang akan menyerang wilayah pantai utara dan timur adalah pasukan Devilmare yang biasa. Tapi, yang akan menyerang wilayah barat adalah pasukan iblis. Lucifer’s force. Mereka BUKAN MANUSIA dan TIDAK MATI jika kalian menyerangnya dengan senjata biasa saja,” dan ruangan jadi berisik.

“Legenda memang menyebutnya begitu, walaupun semua catatan samar bercampur fikti. Lantas apa yang bisa kita lakukan?” tanya Tiza dari fraksi politik Apocalypse.

“Mereka memang tidak bisa mati, tapi mereka bisa hancur. Jika tangan mereka terpotong, satu senjata mereka kan tidak bisa dipakai. Jika kepala mereka terpotong, tubuh mereka masih bisa bergerak, tapi tidak bisa berpikir sehingga akan jatuh begitu saja. Apalagi dengan magic kita bisa menghancurkan mereka. Tapi sulit. Mereka bertubuh sangat besar. Satu saja bisa setinggi lima meter lebih,” Rido menjelaskan.

“Sok tahu kamu,” celetuk Darpy.

“Di kehidupan sebelum ini, aku memburu mereka,” kata Rido, yang wajahnya sama sekali tidak tampak karena tertutup bayangan dan helmnya.

“Oh, jadi kau zombie-mayat hidup? Selamat hidup kembali!” celoteh Darpy dengan tidak percaya. Seketika itu juga, Rido berdiri dan menghampiri Darpy sambil menghunus pedangnya yang amat besar.

“Mau apa kau?” tanya Darpy, agak ngeri melihat sosok setinggi dua meter itu. Rido melepas zirah yang menutupi lengannya dan melemparnya ke lantai marmer. Potongan zirah itu terbuat dari besi keras, namun jatuh tanpa suara ke permukaan marmer yang keras juga itu. Lengan Rido yang besar itu tak tertutup apapun. Lengan itu berwarna putih, seperti biasanya penduduk Dark Land yang… sudah mati.

Kulitnya amat pucat. Ia menjulurkan tangannya ke arah Darpy. “Jabatlah tanganku,” kata Rido, dan semua yang menonton menatap keheranan.

“Seperti maumu sajalah, Tuan Jendral Zombie,” Darpy, walau agak takut, menjabat tangan Rido dengan ekspresi meledek, tapi langsung saja ia terbelalak. Tangan itu begitu dingin, dan membuat seluruh bulu roma merinding. Tapi kejutan utama baru saja akan tiba.

Masih tertegun sambil menjabat tangan Rido yang kanan saja sudah membuat Darpy merinding, dan ia harus sport jantung karena Rido memotong lengan kanannya pada sikunya, dengan pedang di tangan kanannya. Spontan saja Darpy menjerit dan melempar potongan tangan Rido jauh-jauh.

Potongan tangan itu, maupun bagian lengan Rido yang baru saja dipotong, sama sekali tidak mengeluarkan darah. “Aku masih sangat muda. Kuberi tahu saja, aku baru dua puluh dua tapi kau bisa membuatku sakit jantung detik ini juga!” pekik Darpy menatap ngeri lengan Rido yang terpotong.

“Apa itu tidak sakit?” tanya Eko.

“Tentu saja, bodoh.” jawab Rido tanpa ekspresi, dan seluruh ruangan langsung GUBRAK!

Lalu Rido memungut potongan lengannya itu, dan menempelkannya kembali. Seketika itu juga, potongan lengan itu menempel mulus kembali pada tempatnya.

“Lalu apa rencanamu?” tanya Meissa yang setelah menonton adegan film horor itu masih tenang seakan tidak terjadi apa-apa.

“Utara cukup dijaga tiga pasukan saja. Timur, empat. Sisanya, yaitu empat pasukan, ke barat. Dan untuk menjaga wilayah barat, diperlukan pasukan-pasukan lain sebagai tambahan. The White Garda bisa dipakai juga jika anda mengizinkan, Yang Mulia Marino,” tapi Marino ternyata tidak setuju.

“Jester Riddikulo. Dia bisa saja tiba-tiba men-teleport pasukan ke tengah-tengah perkotaan sementara semua pasukan kita ada di daerah pantai. Aku ingin memakai The White Garda untuk mengamankan wilayahku saja. Begini, aku punya ide. Masing masing negara sebaiknya sumbang pasukan seperlunya disamping anggota fraksi militer negara tersebut untuk membantu melindungi wilayah pantai barat. Sebaiknya ada pasukan disisakan untuk mengamankan negara sendiri.” semuanya setuju.

“Untuk agresi ini, kita akan buat persiapan sejak tiga hari sebelum hari perkiraan tibanya mereka. Setuju?” tanya Darpy, dan seluruh anggota The Chain setuju.

“Tapi kita sekarang harus mengundi. Pasukan siapa menjaga mana. Dan tiap ketua harus memimpin secara umum tiap arah. Mari, saya buat undiannya,” usul Rozman dari fraksi militer Eleador.

Setelah sekian lama mengundi, akhirnya keputusan didapatkan. Untuk menjaga wilayah utara, ada pasukan Gabriela, lalu Pandecca dan Cremplin dari fraksi militer Apocalypse. Yang memimpin adalah Marino. Untuk wilayah timur, dijaga oleh Hermady, Bathack, keduanya dari fraksi militer Eleador, Marissa, dan Aldyan dari Apocalypse. Pimpinannya adalah Ratu Darpy. Untuk menjaga wilayah barat, yang tak perlu diundi lagi, ada Reza dari Apocalypse, Rido Matius, Arg dan Rozman dari Eleador, lalu Daffy.

Tentunya yang akan memimpin adalah Meissa. Semua yang akan memimpin pasukan menjaga arah barat, kecuali Rido, agak merinding. Namun, Bathack kelihatan amat khawatir. Wajar saja. Arah barat ini akan paling berbahaya dan sengit luar biasa, dan Meissa, sebagaimana hanya diketahui beberapa orang saja, sedang mengandung. Usia kandungannya masih sangat muda, tapi dapat dibilang sangat berbahaya untuk menunggang kuda dan menerjang segerombolan iblis.

Sidang ini disetujui oleh fraksi peradilan dan ditutup. Semua sedang keluar dari ruang rapat, saat akhirnya Marino menyadari bahwa masih ada dua orang di dalam ruangan. Mereka adalah Meissa dan Bathack. Marino masuk kembali ke dalam ruangan, tapi sempat terhenti sejenak. Ia sadar bahwa ini bukan urusannya, tapi saat mau melangkah keluar kembali, Meissa memanggilnya.

“Tolong bantu kami,” setelah menutup pintu, memastikan bahwa tidak ada yang mendengarkan, ia menghampiri keduanya. “Kau tahu bahwa Meissa akan punya anak. Dan dia sebentar lagi akan turun di medan perang dengan kuda dan berhadapan dengan pasukan raksasa yang tidak bisa mati. Rasanya itu agak mustahil. Tapi, jika ia minta untuk tidak ikut, orang akan bertanya-tanya mengenai alasan ketidak-ikut sertaannya, dan ini terlalu awal untuk membuka rahasia kami. Bagaimana menurutmu?” tanya Bathack.

“Ini adalah situasi yang amat sulit,” kata Marino, ”dan rasanya sulit untuk memilih salah satu. Kalau menurutku, mau tidak mau kalian harus mengumumkan pernikahan kalian. Ketidak ikutan Meissa tidak akan hanya mengundang hujan pertanyaan massa maupun istana, tapi juga akan mengakibatkan runtuhnya semangat pasukan asal Eleador di barat, maupun di utara dan selatan. Ini masalah keselamatan seluruh pulau, tapi tentunya akan luar biasa berbahaya.”

“Jika Meissa ikut pasukan kavileri Rozman, mungkin ia akan agak sulit disentuh oleh para iblis, mengingat kuda memudahkan teknik hit and run, tapi getaran dan hentakan yang ditimbulkan oleh kuda pada penunggangnya jelas amat berbahaya, karena Meissa sedang mengandung. Sedangkan jika ia ikut pasukan Arg, yang merupakan infantri, maka Meissa bisa bergerak agak leluasa tanpa mengganggu kandungannya, tapi akan amat berbahaya karena infantri yang lamban karena berjalan kaki, lebih mudah dihajar ketimbang kavileri yang lincah karena menunggang kuda. Meissa, ini pilihanmu. Kau harus memilih,” kata Marino akhirnya.

Meissa diam sejenak. Bathack memeluknya erat. “Aku menghargai pilihanmu. Apapun itu, tapi aku minta… pertimbangkanlah dengan matang,” katanya. “Baik. Aku… aku… akan bertempur dengan pasukan Arg. Setidaknya aku tidak akan menerima hentakan-hentakan punggung kuda, dan jika kalian menganggap aku tidak mampu melindungi diri dari iblis-iblis itu, kalian salah total,” kata Meissa.

“Aku janji. Seketika setelah aku berhasil menangani daerah utara nanti, aku akan menuju tempatmu,” kata Marino. “Terima kasih. Tolong jaga istriku nanti jika ini berhasil dan yang kau katakan terjadi,” kata Bathack.

Akhirnya tiba juga hari yang dinantikan, tentunya setelah kapal dagang tipuan berhasil dilumpuhkan. Tiga hari lagi, diperkirakan bahwa gelombang-gelombang serangan akan datang ke utara dan timur, lalu serangan ke arah barat akan tiba sekitar empat hari lagi. Sebuah strategi baru didapatkan. Pasukan laut Apocalypse, Eleador, dan Crin’s Blade akan berpatroli sekitar tiga kilometer dari garis pantai utara, timur dan barat. Kini para pasukan sedang memulai bergerak ke arah masing-masing. Yang bergerak ke arah utara dipimpin oleh Marino, yang menunggang kuda paling depan.

Dia menggabungkan diri ke pasukan Gabriela yang berisi kavileri. Dua pasukan lainnya, yaitu milik Pandecca dan Cremplin, adalah infantri dan pemanah. Ada juga pasukan magic. Mereka tiba di lokasi pantai sekitar tengah hari setelah berjalan dari tadi pagi. Marino memulai dengan mengatur jarak antar pasukan. Walau wilayah pantai utara sangat lebar, tapi dengan formasi yang dibuat oleh Marino dan Cremplin dapat menutupi semuanya. Tidak penuh, tapi setidaknya cukup. Saat Marino melihat ke arah laut, tampak dari kejauhan layar-layar yang amat kecil, milik pasukan laut Crin’s Blade yang sedang berpatroli. Menurut rencana, semua pasukan di wilayah ini akan melakukan formasi tempur siaga dengan jarak sekitar seratus meter dari garis pantai.

Malam tiba dan tenda-tenda didirikan. Marino, Gabriela dan Pandecca sedang berdiskusi di tenda milik Cremplin mengenai strategi dan perkiraan perbandingan jumlah pasukan. Sekitar tengah malam, dan di luar hanya ada bunyi dari beberapa prajurit yang mendapatkan giliran jaga malam. Sisanya tidur. Marino sedang berbaring di dalam tendanya, dan rasanya ia menunggu sesuatu, tapi entah apa, dan jawabannya datang juga.

Gabriela masuk ke tendanya yang cukup besar untuk orang dewasa berdiri. Ia mencoret-coret lantai berpasir dengan pedangnya, membuat semacam gambar lingkaran yang sangat rumit. “Apakah yang mau kau lakukan?” tanya Marino.

“Ritual fatician,” kata Gabriela, menatap Marino, dan ‘membanting’ pandangannya ke gambar di lantai, membuat gambar itu bercahaya, lalu Gabriela meletakkan telapak tangannya di gambar tersebut. “Tenang saja…”

Sekitar tengah hari pada keesokan harinya, kentang rebus, dan ayam dibagikan untuk dimakan oleh semua prajurit. Setelah semua selesai makan dan minum, datanglah musuh. Puluhan kapal besar tiba-tiba muncul sekitar dua ratus meter dari garis pantai. Pasti ini ulah Jester. Marino memerintahkan pasukan Gabriela untuk mengambil formasi. Ia juga mengutus beberapa orang untuk memastikan bahwa pasukan Cremplin dan Pandecca telah bersiap.

Tampak ratusan sekoci bergerak menuju pantai yang masing-masing berisi antara lima belas sampai dua puluh prajurit. Dari kejauhan, pasukan laut Crin’s Blade kelihatannya merasa bertanggung jawab atas lolosnya kapal-kapal Devilmare tersebut, berusaha bergerak dengan kecepatan penuh untuk menyerang kapal-kapal yang baru saja muncul ini, tapi tentunya mereka tidak akan sempat.

Sebetulnya Marino bisa saja memerintahkan agar seluruh pasukannya menyergap sebelum mereka tiba, tapi baginya itu kurang adil, dan kurang aman. Sebaliknya, ia memerintahkan agar semuanya memasang formasi standard. Antara defensive dan offensive. Semua kini tengah bersiap untuk yang terburuk. Marino dan Gabriela menunggang kuda yang paling depan di pasukan kavileri milik Gabriela. Begitu pasukan Devilmare telah tiba dan mulai menerjang, Marino mengangkat salah satu dari senjata kembarnya, dan menyentakkannya ke arah musuh, sebagai isyarat untuk menyerang, dan ribuan pasukan kavileri mulai menerjang maju.

Dengan bersemangat, Marino menderu ke arah aliran musuh yang jumlahnya tiada terhitung lagi. Ia menebas ke kiri dan ke kanan dan terkadang diterjang saja musuh dengan kudanya. Saat ia menoleh ke kiri dan ke kanan, baginya, pertempuran ini berada di pihaknya. Korban dari pihaknya memang cukup banyak, kelihatannya pasukan Devilmare bertambah kuat, tapi mayat dari pasukan Devilmare jauh lebih banyak. Dari kejauhan di laut, Marino melihat kapal-kapal Devilmare sedang dibantai oleh pasukan laut Crin’s Blade dibawah pimpinan Doughlas Puruhita.

Setelah sekian lama menebas musuh yang tampaknya terlalu mudah baginya, sesuatu tiba-tiba menghantam kudanya. Marino terpelanting jatuh ke tanah. Dengan sigap ia melompat berdiri. Sekitar enam meter di hadapannya telah berdiri salah satu musuh terbesarnya. Jester Riddikulo.

“Lama tak jumpa. pecundang!” sapa Marino dengan keras dan menantang.

Tapi Jester, tak seperti biasanya, tanpa ekspresi apapun, dan dengan tenang sekali menjawab, “Dasar pelawak.” lalu menembakkan seberkas sinar biru gelap ke arah Marino. Dengan gesit, Marino melompat jauh ke samping, dan saat mendarat, ia langsung melompat tajam sembilan puluh derajat ke arah Jester. Untuk menghindar, Jester menembakkan sederet percikan api, dan Marino terpaksa menghentikan lajunya untuk menangkis. Saat berhasil menangkisnya, Jester sudah menghilang, namun Marino lebih sigap dan melompat tinggi-tinggi.

Jester sudah ada di belakangnya dan berusaha menebasnya dengan pedang sihirnya. Dari posisinya di atas, Marino terjun tajam ke bawah dan bersiap menghantam Jester dengan tumitnya. Jester menghindar, tapi inilah yang ia inginkan. Satu meter dari tanah, ia bersalto, menjejakkan kaki dengan keras ke tanah, lalu menerjang Jester.

Jester jatuh terjengkang sepuluh meter ke belakang. Beberapa prajurit Devilmare menyerangnya, dan dengan mudah ia menghabisi mereka. “Marino! Awas!” pekik sebuah suara, yang ternyata milik Gabriela. Tanpa buang waktu dengan mencari siapa yang memanggilnya, ia melompat ke udara, dan di bawahnya, seberkas sinar biru gelap meledak. Jester telah menembakkan sinar saat ia lengah dan kini bersiap untuk mengeluarkan sinar lagi, yang lebih kuat. Sinar yang ini berwarna hitam, tapi dikelilingi beberapa sinar kecil berwarna biru terang, dan meluncur cepat ke arah Marino.

Dengan kedua senjatanya, Marino menerjang sinar tersebut, entah apa yang ia pikirkan. Senjatanya tiba-tiba menyala keperakan dan sinar dari Jester meledak. Marino terhempas beberapa meter ke belakang, namun tidak terjatuh. Barulah ia tersadar bahwa kedua senjatanya telah patah dan hancur berkeping-keping. Jester tengah bersiap mengeluarkan lagi sihir yang sama. Kini tak ada yang bisa Marino pakai untuk melindungi dirinya dan sinar itu akan mengejarnya jika ia menghindar…

WHUSSS… BHAMMMMMM!!! Marino tak apa-apa. Ternyata Gabriela baru saja melompat untuk menutupi arah datangnya sinar. Ia terjatuh dan tak sadarkan diri, dan anehnya, tanpa luka.

“Tragis sekali,” tawa Jester.

Ini membuat Marino amat marah. Dengan kecepatan luar biasa dan Jester belum siap, Marino menderu ke arah Jester, dan menerjangnya hingga jatuh dan menimpa sebuah mata tombak milik prajurit Devilmare yang tewas. Jester tewas seketika saat tombak itu menembus punggungnya. Segera saja Marino berlari ke arah Gabriela.

“Sadarlah!” pinta Marino, dan untunglah, Gabriela akhirnya tersadar. Tidak ada luka yang tampak padanya, tapi ada sedikit darah keluar dari sudut bibirnya.

“Kau tak apa?” tanya Marino. “Tak apa. Aku menggunakan pedangku untuk menangkisnya, dan pedangku hancur. Armorku juga,” kata Gabriela. Memang, armornya telah hancur berantakan dan kini ia cuma memakai pakaian kain saja, dan mudah sekali untuk diserang. “Ayo kita bertempur lagi, Marino!” seru Gabriela, berusaha untuk berjalan, tapi baru beberapa langkah saja, ia jatuh berlutut, tangan kanannya merengkuh bagian kiri dadanya.

“Jangan. Kita ke tempat istirahat. Kau kemari sebentar!” Marino memanggil tiga prajuritnya. “Antar dia ke tenda, dan lindungi dia,” perintah Marino.

“Kau tak mau mengantarku sendiri?” tanya Gabriela.

“Aku komandan di sini, dan mereka membutuhkanku,” balasnya.

Menjelang matahari terbenam, darah terakhir tersimbah, dan pasukan Devilmare yang tersisa menyerah. Mereka tinggal sekitar dua ribu personel. Marino mengunjungi tenda Gabriela yang telah mampu berdiri dan berjalan lagi. Ia telah memakai armor cadangannya.

“Aku mau memenuhi janjiku pada Meissa. Aku mau menyusulnya,” kata Marino lalu ia pergi lagi dengan membawa seekor kuda dan sebatang tombak. Agak lama Marino berkuda, dan ia baru tersadar bahwa ia diikuti.

“Kami harus ikut denganmu,” ternyata Gabriela dan pasukan kavilerinya. “Pandecca dan Cremplin bersiap jika ada gelombang kedua,” kata Gabriela.

Tak lama, mereka tiba di kancah pertempuran wilayah barat. Pasukan iblis itu memang sangat mengerikan. Mereka setinggi tiga manusia pria dewasa, berbadan kekar berbulu, dan berduri. Masing-masing membawa dua senjata mengerikan, seperti kampak, rantai berbola-duri, pedang, dan sebagainya. Tapi jelas kalau pihak manusia, atau The Chain, sudah mulai memenangkan pertempuran. Di mana-mana, tampak ada iblis dibantai. Saat iblis terakhir dibantai, semua bersorak seru. Memang, dari pihak The Chain, ribuan korban jatuh demi melawan iblis yang secara total kira-kira sejumlah delapan ribu, menurut seorang prajurit.

Marino mencari Meissa dan menemukannya diantara pasukannya. Marino mendekat ke telinga Meissa. “Bagaimana kandunganmu? Tidak merasa sakit?” bisiknya khawatir.

“Tidak apa-apa, kok. Tak apa,” bisik Meissa ke telinga Marino. “Dia akan menjadi anak yang tangguh. Aku yakin hal itu,” kata Marino mengelus punggung Meissa.

Sementara yang lain sedang berkumpul di tenda-tenda, seorang prajurit menghampiri Gabriela, dan membisikkan sesuatu padanya. Setelah berpikir beberapa lama, Gabriela merangkul prajurit itu dan menariknya ke arah laut. Ramah sekali, pikir Marino, tak banyak jendral, dan seseorang yang secantik itu akan bersikap baik begitu pada orang yang pangkatnya lebih rendah. Nampaknya prajurit itu sedang menunjukkan sesuatu pada Gabriela di laut. Gabriela memberi tahu sesuatu pada prajurit itu, dan tiba-tiba Marino merasa tidak enak, sebab Gabriela menghunus pedangnya dan berjalan mundur perlahan-lahan. Prajurit yang tadi bersamanya lari ke arah tenda.

“Ada iblis lagi! Semua bersiaga!” pekiknya. Spontan saja semuanya mengambil tombak masing-masing, tapi ternyata terlambat. Seekor monster yang hampir sepuluh kali lebih besar dari iblis tadi tiba-tiba muncul dari air, dan melompat ke pantai, tepat ke hadapan Gabriela. Dengan berani ia menghadapi monster tersebut. Seluruh pasukan menerjang maju ke arah monster tersebut, tapi itupun terlambat. Sang monster raksasa yang mirip kalajengking berbulu itu menghantamkan capitnya keras sekali ke punggung Gabriela, yang melayang, dan mendarat keras sekali di salah satu tenda.

Semua prajurit yang berjumlah lebih dari empat puluh ribu tadi tidak jadi menyerang. Monster itu sedang bersiap untuk menembakkan bola api yang cukup untuk membantai sepuluh ribu orang sekaligus. Bantuan datang. Amber, burung milik Adin datang membelah langit malam yang gelap. Amber sekarang berwarna merah menyala karena memang terbakar api yang amat panas. Ia terbang cepat ke arah monster itu sambil menembakkan bola-bola api yang kecil, tapi terus mengalir secara beruntun bagai hujan. Marino melempar tombaknya dan berhasil menancapkannya ke samping tubuh monster itu, mengalihkan perhatiannya dari Amber, yang kemudian mengambil kesempatan untuk menyemburkan sebuah bunga api yang amat dasyat. Si monster yang sama sekali tidak waspada mengerang keras, lalu terbakar.

Rido Matius baru saja tiba dengan kudanya. “Maaf, aku terlambat. Ini adalah iblis yang kuat,” katanya.

Gabriela yang tadi baru saja terpelanting, sedang dibaringkan di atas tempat tidur dalam tenda besar. Kelihatannya ia sedang sekarat. Armornya hancur lagi. Kini ia terbaring lemah dengan memakai selimut saja dan pandangannya kian meredup.

“Tinggalkan kami berdua,” minta Marino, dan semua yang berada di tenda selain mereka berdua, keluar. Marino membelai kepala Gabriela dengan lembut.

“Kau akan berhasil. Kumohon,” bisik Marino.

Gabriela tersenyum dan menggeleng. “Tidak. Sudah waktunya aku pergi. Tapi kau janji padaku akan tiga  hal,” kata Gabriela.

“Katakanlah.”

Gabriela berhenti sejenak sebelum mengatakannya.

“Kita tidak ditakdirkan bersama. Aku tahu itu, meski kita sudah merasakan, setidaknya sebentar, bersama. Tapi Crin’s Blade harus punya ratu. Yang kedua, kalahkanlah Rafdarov. Kembalikanlah Zenton. Ketiga, sahabatmu Adin. Berikanlah pasukanku padanya. Aku berhutang sesuatu padanya dan akan kuberikan pasukanku padanya jika aku tidak membayarnya. Nyatanya aku memang tidak membayarnya.”

“Akan kubantai Rafdarov, tapi… ratu Crin’s Blade… kaulah yang akan menjadi ratuku… kumohon… aku mencintaimu… setelah semua yang kita telah lakukan… sejak pertama aku bertemu denganmu, yang kemarin kita lakukan, dan pertempuran yang kita lalui… kau harus,” kata Marino, memeluk tubuh Gabriela yang tidak berdaya.

“Aku bukan cinta sejatimu, meski aku tahu kau mencintaiku, dan aku jelas amat mencintaimu. Yang kemarin itu, sembari itu, seorang fatician bisa mengetahui cinta sejati seseorang, meski orang itu sendiri belum menyadari hal tersebut. Sama seperti kau. Kau tak menyadari siapa cinta sejatimu. Yang akan menjadi ratumu adalah Daisy Asalaz. Kumohon, penuhi dua janji ini,” kata Gabriela, lalu tersenyum muram.

Marino mencium bibirnya, namun ia tahu bahwa Gabriela takkan merasakannya lagi, sebab ia akan pergi. Namun ia tahu pula bahwa ia tidak akan merasakannya lagi pula. Maka dari itu, ia akan menemani Gabriela dan juga menyaksikan kepergiannya.

“Aku sangat mencintaimu…”

Agak pagi, akhirnya Gabriela menyerah. Marino keluar dari tenda dengan wajah yang amat sedih, tapi ekspresi itu langsung berubah begitu ia tahu apa yang terjadi di luar. Ia tak mendengar yang sedang terjadi. Serangan iblis gelombang kedua. Pertempuran baru saja dimulai, memang, dan saat mulai, menurut seorang prajurit, tak ada yang siap. Tiba-tiba saja mereka muncul dari air. Untungnya jarak para iblis dan para prajurit cukup jauh dan sigapnya prajurit yang mendapatkan tugas jaga malam. Marino yang senjata kembarnya tinggal pangkalnya saja yang tersisa menempel di pergelangan tangannya, menyambar sebatang tombak, dan menerjang maju. Ia harus membalas dendam. Meski bukan para iblis inilah yang membunuh Gabriela, tapi tetap saja ia ingin melampiaskan dendamnya pada sesuatu, dan kebetulan saja para iblis itu muncul.

Ia berlari cepat dan lurus menuju seekor iblis terdekat yang sedang dikepung lima prajurit sekaligus, namun masih bertahan dengan salah satu lengannya tidak berfungsi lagi. Marino melompat, bersalto, dan menghantam jatuh iblis itu dengan kedua tumitnya, dengan resiko kena tombak temannya sendiri. Setelah ia kini berdiri di atas iblis yang sudah terjatuh itu, dihunjamkan tombaknya tepat ke dada monster itu. Monster itu, bukannya berusaha bangun, tapi malah menghantamkan kapak raksasa dengan satu tangannya yang masih berfungsi ke Marino.

Tentu gerakan monster yang cukup lamban jika dibanding Marino itu tidak mungkin mengenai Marino, yang melompat ke depan. Kapak itu menghantam dadanya sendiri, mengakibatkan tubuhnya terbelah dua. “Bodoh sekali,” gumam Marino. Ia melihat sebuah pedang yang cukup besar tergeletak di tanah, dan ternyata pedang itu tidak seberat kelihatannya. Dipungutnya pedang itu dan ia kembali ke kancah pertempuran. Dengan melompat dan bersalto, ia menebas dua iblis yang sedang kebetulan berdekatan, hingga kepala keduanya nyaris putus dan jatuh terhuyung-huyung. Prajurit yang tadi mengerubutinya tinggal menyelesaikan saja. Toh monster itu tak lagi dapat bergerak yang berarti.

Tampak olehnya Meissa dari kejauhan. Merasa harus melindunginya, ia menerjang iblis yang berada di dekat Meissa.

“Terima kasih. Kita partner, OK?” Meissa menawarkan.

“OK,” sahut Marino bersemangat. Sebetulnya Meissa tak banyak membantu, tapi Marino sudah kehilangan Gabriela. Ia tak ingin kehilangan Meissa pula, sebab ia sangat menyayanginya bagai saudaranya sendiri. Dengan kecerdikannya, ia membuat dirinya dan Meissa sebagai senjata yang amat ampuh. Saat melihat ada iblis yang memunggunginya, Marino berlutut, mengangkat kedua kaki Meissa dari belakang, Meissa naik ke bahunya. Setelah itu, Marino berdiri dengan cepat dan dengan saat yang bersamaan Meissa menjejak keras untuk melompat tinggi dan mendarat di punggung monster itu.

Ia mengalungkan pedangnya di leher iblis itu dengan kuat, lalu menjejak punggung si monster dengan kuat untuk melompat ke belakang. Meissa berhasil melompat jauh ke belakang dan kepala sang iblis ikut terbawa karena lehernya putus tersangkut pedang Meissa. Marino tidak memberitahunya hal ini. Ia cuma tiba-tiba mendapat ide dan mengangkat Meissa dari belakang. Meissa sendirilah yang mengimprovisasi keadaan. Saat itu Marino sadar, bahwa Meissa memakai jubah kerajaannya yang biasa, dan tanpa armor sama sekali. Karena itu, Marino makin merasa harus melindunginya.

Dengan adanya Amber yang dapat mencurahkan hujan api tadi sebelum prajurit-prajurit mendekat, menembakkan sambaran api yang sangat tepat sasaran dan cepat, lalu baru tibanya pasukan magic Yogin dan Kaine, segalanya lebih mudah. Daerah pantai barat ini menjadi ladang pembantaian iblis. Marino juga melihat Rido Matius, dengan menunggang kuda, melaju kencang, dan menebas iblis satu per satu yang langsung terbelah dua tanpa kesulitan sama sekali. Keadaan makin menguntungkan saat pasukan infantri Cremplin tiba untuk membantu.

Iblis terpenggal, iblis terbelah, iblis terbakar, iblis pecah, iblis tanpa tangan, iblis dengan puluhan panah di tubuhnya, iblis dengan puluhan tombak di tubuhnya, iblis tersiksa, mayat iblis, begitulah pemandangannya saat itu. Hingga akhirnya Rido Matius menghancurkan iblis terakhir hingga berkeping-keping, semuanya bersorak dengan penuh kemenangan. Dalam pertempuran gelombang kedua ini, dari pihak prajurit tak jatuh korban yang sebanyak tadi, meski tetap cukup memprihatinkan. Tadi, sekitar dua belas ribu tewas secara total di pertempuran pertama dan pada pertempuran kedua sekitar enam ribu.

Setelah satu malam berlalu tanpa serangan lagi, seluruh pasukan ditarik mundur. Semua menuju ke Eleador untuk berkumpul, tapi khusus pasukan asal Crin’s Blade, langsung menuju ibukota Crin’s Blade untuk mengantar jenasah Gabriela Diggory. Meissa juga ikut, sebab Bathack juga menunggunya di sana.

Begitu mereka mendekat ke istana, tampak sebuah pasukan menunggu di utara kastil. Itu berarti pasukan dari arah barat telah tiba. Beberapa anggota pasukan the White Garda datang dan memberi laporan bahwa situasi dalam negeri dalam keadaan aman.

“Siapkan upacara kematian. Kita kehilangan seseorang yang amat penting,” perintah Marino, menunjuk ke arah sebuah peti mati.

“Siapa itu, Paduka?” tanya si prajurit.

“Gabriela Diggory.”

Sesampainya di ruang pertemuan istana, Marino dan Meissa melihat Bathack. Setelah semua orang untuk keluar, langsung saja Bathack memeluk Meissa.

“Meissa, kau tidak apa-apa?” tanya Bathack.

“Aku tidak apa-apa. Marino meminta datang menolongku. Ia memenuhi janjinya,” jawab Meissa, melepas pelukan Bathack.

“Terima kasih banyak, Marino,” kata Bathack.

Baru saja Meissa akan memeluk Marino, tapi tidak jadi. Marino membelalak dengan terkejut. Pada bagian belakang jubah Meissa yang berwarna kuning cerah, merembes sesuatu yang berwarna merah, darah…..

[End of Chapter IX]

[Coming up next, Chapter X: Expedition]

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.